korea by dewanti

Tuesday, April 15, 2014

Bursa saham AS Berpotensi Naik Terbatas

 
 
INILAHCOM, New York - Bursa saham AS berpotensi menguat terbatas pada perdagangan Senin (14/4/2014). Investor menunggu data penjualan ritel.
Indeks S&P futures naik 0,3%, indeks Doe Jones naik 0,2% dan indeks Nasdaq futures naik 0,4%. Demikian mengutip marketwatch.com.
Ketegangan di Ukraina menambah ketegangan di pasar saham. Hal ini berpotensi menjauhkan investor dari saham dan memilih emas atau dolar AS.
Saham Citigroup naik 2,3% dalam perdagangan premarket setelah laba kuartal pertama turun menjadi US$1,3 per saham. Demikian juga pendapatan turun menjadi US$20,1 miliar.
Data penjualan ritel akan menjadi fokus investor di bursa AS. Ekonom memprediksikan akan menguat 0,9% di bulan Maret setelah naik 0,3% di bulan Februari.

Wall Street Menghijau Berkat Saham Perbankan

New York -Pasar saham Wall Street ditutup menghijau berkat penguatan saham-saham bank. Kinerja Citigroup yang melebihi ekspektasi pasar menjadi pemicu aksi beli.
Data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) yang kuat juga mendorong kepercayaan diri investor. Sehingga kabar negatif konflik di Ukraina bisa ditepis begitu saja oleh investor.
Selain saham Citigroup, saham bank lain seperti Bank of America Corp dan Morgan Stanley. Indeks sektor finansial langsung memimpin penguatan di lantai bursa Paman Sam.
"Kita ini sedang dalam perang antara faktor fundamental dan laporan kinerja, dan sejauh ini keduanya tampak baik. Situasi geopolitik yang serba tak pasti juga masih ada, tapi sepertinya tidak terlalu berpengaruh di pasar," kata Nicholas Colas, kepala strategi pasar dari ConvergEx Group di New York, seperti dikutip Reuters, Selasa (15/4/2015).
Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, Indeks The Dow Jones menanjak 146,49 poin (0,91%) ke level 16.173,24. Indeks Standard & Poor's 500 bertambah 14,92 poin (0,82%) ke level 1.830,61. Indeks Komposit Nasdaq melaju 22,96 poin (0,57%) ke level 4.022,69. (detik.com)

Di ASEAN, Hanya RI yang Tak Punya Cadangan BBM Sama Sekali

Jakarta - Di antara negara-negara ASEAN, hanya satu negara yang tidak punya sama sekali cadangan bahan bakar minyak (BBM), yakni Indonesia, berbahayakah?
"Semua negara di ASEAN punya semua cadangan BBM, seperti Malaysia dan Singapura yang punya cadangan BBM cukup hingga 3 bulan, apalagi kedua negara itu punya kilang minyak yang banyak makanya sampai bisa ekspor BBM," ucap Wakil Ketua Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullah Asa ditemui detikFinance di ruang kerjanya, Jalan Kapten P. Tendean, Senin (14/4/2014).
Pria yang biasa disapa Ifan ini menambahkan, contoh lain seperti, Jepang yang punya cadangan BBM hingga 7 bulan dan Amerika yang berbulan-bulan.
"Bahkan negara adikuasa (Amerika Serikat) berani menghabiskan BBM yang banyak untuk perang di negara-negara yang kaya minyak, tujuannya apa? Agar ketahanan energi seperti ketahanan BBM-nya aman," katanya.
Indonesia sendiri memang mempunyai cadangan operasional BBM selama 18 hari dan disediakan oleh badan usaha yakni PT Pertamina (Persero).
"Tapi itu cadangan operasional, tersebar di SPBU, dalam pengiriman, di depot BBM. Bukan cadangan BBM yang jika suatu saat bisa digunakan dalam keadaan darurat, dan dibanyak negara disediakan oleh negara bukan badan usaha yang tugasnya mencari untung, yang berbisnis mencari keuntungan," ungkapnya.
Ifan menambahkan, negara sebesar ini tidak memiliki cadangan BBM sama sekali tentunya sangat berbahaya sekali.
"Kita tidak perlu sampai perang, ada bencana alam seperti tsunami, bukannya mendoakan, tapi kalau itu terjadi, bagaimana kebutuhan energi kita bisa dicari? tidak ada, impor ya kalau ada barangnya dan uangnya, masak mau nunggu itu sampai terjadi baru kita berpikir menyediakannya," katanya.
Ia mencontohkan, seperti kejadian yang melanda Jepang pada 11 Maret 2013 lalu, kotanya banyak yang porak poranda, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) bocor bahkan terpaksa dimatikan semua.
"Namun Jepang tidak khawatir, listriknya tetap menyala, rumah rakyatnya tetap hangat, karena mereka punya cadangan BBM, yang digunakan saat kedaaan darurat, sambil menyiapkan langkah selanjutnya," ucap Ifan.
Ifan meminta kepada pemerintah agar BPH Migas diizinkan untuk membangun fasilitas bunker atau tempat penyimpanan BBM yang akan menjadi cadangan BBM nasional yang saat ini tidak ada sama sekali.
"Kita bisa bangun sendiri, uangnya darimana? BPH Migas itu setahun pendapatannya mencapai Rp 1 triliun, yang berasal dari transaksi penjualan BBM dan gas bumi badan usaha, semuanya disetorkan ke Kementerian Keuangan, namun yang dikembalikan untuk menjadi anggaran BPH Migas hanya Rp 300 miliar. Kenapa tidak Rp 700 miliar itu digunakan untuk membangun fasilitas cadangan BBM, kan dana itu hasil dari minyak ya harusnya digunakan untuk minyak juga, untuk ketahanan energi kita," ungkapnya.
Diakuinya, dana untuk membangun ketahanan BBM nasional tidaklah murah, diperlukan dana yang cukup besar.
"Untuk membangun fasilitas ketahanan BBM nasional 1 hari saja diperlukan dana sekitar Rp 1 triliun, tapi itukan bisa kita bangun secara bertahap, kita harus mulai segera, masak negara sebesar ini tapi ketahanan energinya rapuh," tegasnya.
Ifan mencontohkan, jika pipa Balongan meledak, maka ketahanan BBM di Jakarta hanya cukup selama 3 hari saja. (detik.com)