korea by dewanti

Monday, October 21, 2013

Kredit Korporasi BII Capai Rp27 Triliun

Bisnis.com, JAKARTA - Kredit korporasi PT.Bank International Indonesia (BII) Tbk per September 2013 mencapai Rp27triliun.
Pencapaian itu telah melampaui target pertumbuhan kredit produksi perseroan sebesar 18% sepanjang tahun ini.
Pada 2012, total penyaluran kredit korporasi BII mencapai Rp21,6 triliun atau tumbuh 24% dibandingkan dengan 2011.
Sepanjang semester I/2013, penyaluran kredit korporasi BII hanya tumbuh 2% menjadi Rp23,9 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, Rp23,3 triliun.
Head Corporate Banking BII, Darwin Wibowo, mengatakan, pihaknya menargetkan paling tidak tiga sektor penyaluran kredit pada kuartal IV/2013 dengan kemungkinan skema sindikasi. Beberapa sektor yang menarik bagi BII yakni konsumer, infrastruktur dan energi.
"Persaingan memang sekarang cukup ketat. Perusahaan dan bank kalau bisa tentu memilih deal tahun ini, karena lebih aman. Tahun depan trennya melambat, kami berharap bisa menyelesaikan semua target tahun ini," ujarnya Senin (21/10).
Saat ini, porsi kredit korporasi BII mencapai 25% dari total kredit. Pada Senin (21/20/2013), BII merupakan salah satu bank yang menyalurkan kredit sindikasi kepada PT.Charoen Pokphand Indonesia Tbk sebesar Rp600 miliar. Charoen mendapatkan total fasilitas pinjaman US$500 juta yang terdiri dari US$325 juta dan Rp2,1 triliun.
"Naturally meski memiliki induk Maybank, kami tetap menyalurkan kredit rupiah karena lebih banyak funding sourcenya".

Ikuti Arus Positif Bursa Asia, IHSG Naik 31

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 31 poin mengikuti arus positif bursa-bursa regional. Pelaku pasar berburu saham unggulan dan lapis dua.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 10.840 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu Rp 10.905 per dolar AS.
Membuka perdagangan awal pekan, IHSG bertambah 15,856 poin (0,35%) ke level 4.562,804 didorong oleh sentimen positif dari pasar global dan regional. Investor lakukan aksi beli selektif di saham-saham unggulan.
Meski bergerak dalam rentang tipis, IHSG tidak menyentuh zona merah hingga siang hari ini. Saham-saham konsumer dan konstruksi menahan indeks tetap positif.
Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG menguat 20,190 poin (0,44%) ke level 4.566,761 berkat penguatan saham-saham konsumer. Investor pede berburu saham setelah melihat bursa Asia yang kompak menguat.
Aksi ambil untung terjadi di saham-saham komoditas, aneka industri, dan infrastruktur. Tapi aksi ini belum bisa menjegal indeks sampai jatuh ke zona merah.
Menutup perdagangan awal pekan, Senin (21/10/2013), IHSG menanjak 31,607 poin (0,70%) ke level 4.578,178. Sementara Indeks LQ45 bertambah 6,042 poin (0,79%) ke level 773,750.
Pelaku berburu saham unggulan dan lapis dua berkat dorongan dari pasar regional. Enam dari sepuluh sektor berhasil menguat, dipimpin sektor konsumer dengan penguatan lebih dari dua persen.
Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 149.969 kali pada volume 6,953 miliar lembar saham senilai Rp 6,298 triliun. Sebanyak 151 saham naik, sisanya 102 saham turun, dan 106 saham stagnan.
Bursa-bursa di Asia masih kompak bertahan di zona hijau hingga sore hari ini. Bursa saham China memimpin penguatan dengan lonjakan lebih dari satu persen.
 
Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di regional pagi hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai melonjak 35,46 poin (1,62%) ke level 2.229,24. 
  • Indeks Hang Seng naik 98,05 poin (0,42%) ke level 23.438,15. 
  • Indeks Nikkei 225 menguat 132,03 poin (0,91%) ke level 14.693,57. 
  • Indeks Straits Times bertambah 5,26 poin (0,16%) ke level 3.198,16. 
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 25.000 ke Rp 1,2 juta, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.800 ke Rp 36.650, Unilever (UNVR) naik Rp 700 ke Rp 31.500, dan Lion Metal (LION) naik Rp 350 ke Rp 14.000.
Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mandom (TCID) turun Rp 500 ke Rp 10.000, Nipress (NIPS) turun Rp 450 ke Rp 9.750, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 300 ke Rp 13.700, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 250 ke Rp 33.700. (detik.com)

Cadangan Minyak RI Terendah se-ASEAN, Hanya 3,7 Miliar Barel

Jakarta - Indonesia bukan lagi negara kaya minyak maupun eksportir minyak. Cadangan minyak yang tersisapun paling rendah dibandingkan negara-negara di ASEAN.
Plt Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johanes Widjonarko mengatakan cadangan minyak yang ditemukan tinggal 3,7 miliar barel.
"Cadangan minyak yang ditemukan tinggal 3,7 miliar barel," kata Johanes dalam diskusi di IATMI Oil & Gas Business, di Hotel Mulia, Senayan, Senin (21/10/2013).
Johanes mengungkapkan dengan hanya tersisa cadangan minyak sebesar 3,7 miliar barel tersebut, merupakan cadangan paling rendah di antara negara di ASEAN.
"Tiga koma tujuh untuk minyak itu berada di bawah rata-rata ASEAN, di bawah Vietnam yang mempunyai 4,7 miliar barel. ini harus jadi perhatian kita bersama, tantangan ke depan bagaimana tata kelola migas kita," ungkapnya.
Ia menambahkan apalagi jika melihat tren konsumsi minyak di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun sementara produksi tidak cukup.
"Kita lihat tren dikonsumsi minyak bumi meningkat dari tahun ke tahun, sementara produksi tidak cukup. Sekarang ini produksi minyak hanya 830.000-836.000 barel per hari," katanya.
Sementara disisi produksi dan penambahan cadangan minyak dengan eksplorasi yang masih ternyata terganjal peraturan perundang-undangan.
"Ada aturan-aturan yang baru muncul, bagaimana kita optimalkan kegiatan eksplorasi, misalnya pajak PBB untuk kegiatan offshore, ada kontrakor sampai bayar Rp 188 miliar hanya untuk bayar PBB pada saat eksplorasi (belum dapat minyak)," katanya. (detik.com)