korea by dewanti

Thursday, January 9, 2014

Stimulus The Fed Dipangkas, FOMC Yakin Pasar Sudah Siap

Bisnis.com, JAKARTA—Federal Open Market Committee (FOMC) meyakini pasar sudah sangat siap atas rencana pengurangan pemberian stimulus oleh Federal Reserve.
Laporan berkala tentang risiko potensial terhadap stabilitas keuangan menyimpulkan bahwa kerentanan sistem keuangan terhadap guncangan yang dapat merugikan perekonomian tetap pada tingkat moderat secara keseluruhan.
Profil permodalan yang relatif kuat dari perusahaan-perusahaan perbankan besar, pertumbuhan kredit secara keseluruhan membaik, dan beberapa penurunan ketergantungan pada pendanaan jangka pendek grosir di sektor keuangan dipandang sebagai faktor pendukung stabilitas keuangan saat ini.
"Informasi yang diterima sejak FOMC bertemu pada Oktober menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi berkembang pada kecepatan yang moderat, dan kondisi pasar tenaga kerja telah menunjukkan perbaikan lebih lanjut," ujar FOMC dalam catatan hasil pertemuan 17-18 Desember 2013 yang diterima oleh Bisnis, Kamis (9/1/2014).
Dalam keputusan pengurangan pemberian stimulus tersebut, FOMC juga mempertimbangkan tingkat pengangguran yang telah menurun meskipun tetap tinggi, pengeluaran rumah tangga dan investasi bisnis tetap maju, sedangkan pemulihan di sektor perumahan agak melambat dalam beberapa bulan terakhir.
Kebijakan fiskal yang menahan pertumbuhan ekonomi meskipun pada tingkat pembatasan yang relatif longgar, tingkat inflasi yang berjalan lambat namun konsisten sehingga memberikan keyakinan bahwa harapan inflasi jangka panjang tetap stabil.
FOMC juga mencatat bahwa kompleksitas dan keterkaitan lembaga keuangan besar, bersama dengan beberapa peningkatan nyata dalam selera investor untuk aset berimbal hasil lebih tinggi berpotensi menjadi sumber risiko terhadap sistem keuangan.

Inflasi China Melambat

Bisnis.com, BEIJING—Inflasi China pada Desember melambat, sementara harga grosir terus memperpanjang rentetan penurunan sejak krisis keuangan Asia.
Menurut Biro Statistik Nasional, Indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik 2,5% dari tahun sebelumnya.
Hasil indeks tersebut masih lebih kecil dibanding dengan angka rata-rata tengah survei Bloomberg yang memprediksi pada kisaran 2,7%. Sementara itu indeks harga produsen (producer price index/PPI) turun menjadi 1,4% dari tahun lalu.
Bank of America Corp. mengatakan bahwa inflasi dapat meningkat pada 2014 karena ekonomi China stabil, harga rumah naik dan prospek pertumbuhan global membaik.
Indeks harga konsumen tahunan pada 2013 naik 2,6%. Sebelumnya pemerintah mengatakan bahwa mereka akan terus menjaga inflasi pada kisaran 3,5% di 2013.
Perkiraan analis untuk kenaikan CPI pada Desember berkisar 2,3% hingga 3,3% dan PPI diproyeksikan turun menjadi 1,3%.

Besok Wika Beton Minta Izin IPO ke OJK

INILAH.COM, Jakarta - Anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yakni PT Wika Beton akan menyambangi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada pekan ini.
Direktur Keuangan PT Wijaya Karya Tbk, Adji Firmantoro mengatakan, dalam pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO) Wika Beton menggunakan buku keuangan September 2013.
"Tanggal 10 Januari (2014) kita akan ke OJK melakukan pendaftaran IPO, kalau meleset dari tanggal itu, paling lambat tanggal 13 Januari. Kita harapkan listing pada Maret," kata Adji di Jakarta, Kamis (9/1/2014).
Mengenai dana yang ditargetkan dan jumlah saham yang akan dilepas ke publik, Adji belum bisa menyebutkan saat ini karena masih dalam proses menuju IPO. "Detailnya nanti kita sampaikan, karena kita ke OJK terlebih dahulu biar tidak melanggar peraturan OJK," ucap Adji.
Penggunaan dana IPO, untuk memperluas bisnis perseroan dan pembangunan pabrik beton, guna meningkatkan kapasitas produksi yang lebih tinggi. Hingga saat ini, kapasitas produksi Wika Beton mencapai 2 juta ton per tahun dari delapan pabrik beton. "Tahun ini kita targetkan naik menjadi 2,2 juta ton," kata Adji.
Lebih lanjut, Adji mengatakan Wika Beton sepanjang 2013 diperkirakan memperoleh laba bersih sebesar Rp240 miliar dan mampu menyumbang ke pendapatan induk usaha sebesar 40% secara konsolidasi. Sedangkan tahun ini ditargetkan laba bersih Rp280 miliar.