korea by dewanti

Wednesday, April 16, 2014

Sempat Naik Tinggi, IHSG Berakhir Stagnan

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencoba dekati level 4.900 namun akhirnya harus ditutup stagnan. Aksi ambil untung menghambat laju penguatan indeks.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di posisi Rp 11.430 per dolar AS sama seperti posisi pada penutupan perdagangan kemarin.
Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG naik 13,273 poin (0,27%) ke level 4.883,488 berkat aksi beli di saham-saham unggulan dan lapis dua. Indeks semakin mendekati level 4.900.
Saham-saham unggulan dan lapis dua kembali jadi incaran aksi beli investor. Indeks masih gagal mencapai level psikologis 4.900. Indeks hanya naik sampai posisi tertingginya hari ini di 4.893,535.
Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG naik 13,184 poin (0,27%) ke level 4.883,399. Indeks bertahan di zona hijau sejak pembukaan perdagangan. Investor sudah memprediksi ekonomi Tiongkok akan melambat sehingga tidak menjadi sentimen negatif.
Saham-saham yang kemarin sudah naik tinggi mulai terkena aksi ambil untung, seperti di sektor infrastruktur dan konsumer. Aksi jual ini menghambat laju penguatan indeks.
Menutup perdagangan, Rabu (16/4/2014), IHSG naik tipis 2,796 poin (0,06%) ke level 4.873,011. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 0,338 poin (0,04%) ke level 823,425.
Transaksi investor asing hingga sore ini terpantau melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 342,89 miliar di pasar reguler dan negosiasi.
Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 275.321 kali pada volume 4,986 miliar lembar saham senilai Rp 5,657 triliun. Sebanyak 151 saham naik, 153 turun, dan 74 saham stagnan.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok tidak membuat investor regional gentar beburu saham. Perlambatan ini sudah sesuai prediksi pasar. Bursa di Asia pun kompak menguat menutup perdagangan hari ini.
 
Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di Asia sore ini:
  • Indeks Komposit Shanghai menguat 3,52 poin (0,17%) ke level 2.105,12.
  • Indeks Hang Seng naik 24,75 poin (0,11%) ke level 22.696,01.
  • Indeks Nikkei 225 melonjak 420,87 poin (3,01%) ke level 14.417,68.
  • Indeks Straits Times tumbuh 7,60 poin 0,23%) ke level 3.253,92.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 400 ke Rp 25.300, Multi Prima (LPIN) naik Rp 250 ke Rp 5.250, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 225 ke Rp 9.975, dan Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 175 ke Rp 8.000.
Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 700 ke Rp 68.900, Unilever (UNVR) turun Rp 575 ke Rp 30.100, Mayora (MYOR) turun Rp 425 ke Rp 29.200, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 250 ke Rp 21.250. (detik.com)

Panglima TNI ke Investor Asing: Jangan Ragu Datang, RI Negara Aman!

Jakarta -Panglima TNI Moeldoko memberikan garansi kepada para investor asing yang akan berinvestasi di Indonesia. Moeldoko menegaskan Indonesia adalah negara aman sehingga tak perlu khawatir termasuk saat ada Pemilihan Umum (Pemilu).
"Pemilu yang berlangsung saat ini akan berjalan aman dan damai, TNI dan semua elemen harus mampu menjamin kelancaran proses Pemilu. Karena 2014 adalah harapan," kata Moeldoko di acara The 14th Annual Citi Economic and Political Outlook Indonesia: The Next Chapter, di Ballroom Four Seasons Hotel, Kuningan, Jakarta, Rabu (16/4/2014).
Ia mengatakan, memang ada kekhawatiran dan ketakutan setiap ada perubahan kepemimpinan di suatu negara. Pada Pemilu yang sudah terjadi 2004 dan 2009 semua berjalan damai.
"Ini karena panglima TNI nya tidak pernah tidur. Investor tidak akan masuk jika keamanan dan politik di suatu negara tidak stabil. Persoalan politik akan mengganggu aliran modal," tegasnya.
Moeldoko menegaskan TNI akan mendukung semua komponen bangsa untuk mendorong investasi dalam mendorong ekonomi nasional. "Jadi, jangan ragu-ragu datang ke Indonesia, karena Indonesia negara yang aman," tegas Moeldoko. (detik.com)

Ekonom Ini Prediksi Investor Senang Jika 3 Partai Ini Berkoalisi

Jakarta - Joko Widodo (Jokowi) dari Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDI P) dan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra adalah dua figur calon presiden yang diharapkan menang dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Juni mendatang oleh para investor. Tapi bagaimana dengan koalisi partai?
Koalisi memang menjadi perhatian selanjutnya setelah hasil pemilihan umum legislatif (pileg) tidak sesuai harapan. Karena dari 12 partai yang bertarung, tidak ada satupun yang berhasil meraih suara di atas 20% atau menjadi mayoritas.
Investor juga punya koalisi idaman yang diharapkan terwujud dalam tubuh pemerintahan, mereka adalah PDI P, Partai Golkar dan Partai Gerindra. Karena tiga partai besar tersebut memiliki suara yang dominan bila berkoalisi.
"Bagi investor yang penting, dua atau tiga partai tebesar, di DPR berkoalisi. Kalau misalnya ada PDI Glokar Gerindra, investor pasti akan senang sekali. Itu memang yang paling sempurna," ungkap Ekonom Senior Standard Chartered Fauzi Ichsandi Hotel JW Marriot, Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (16/4/2014)
Ia mengakui, untuk kondisi sekarang itu tidak mungkin terjadi. Akan tetapi bila melihat ideologi partai, harusnya ketiga partai ini bisa berkoalisi. Karena sangat kuat dalam unsur nasionalis.
"Karena artinya partai dengan lebih dari 50% kursi di DPR dikuasai. Dan 3 partai ini secara ideologi ini dekat kan," sebutnya.
Hasil ini didapat setelah beberapa waktu lalu, Fauzi berbicara dengan investor terdekat di Singapura. Salah satu pembicaraannya adalah terkait dengan proyeksi dari pemenang pemilu di Indonesia.
Bila koalisi lebih dari tiga partai, Fauzi meragukan kepercayaan dari investor. Karena pemerintahan tidak akan jauh berbeda seperti sekarang ini. Penentuan kebijakan menjadi sulit terarah, efektif dan efisien.
"Karena investor menilai koalisi itu lebih dari 5 partai membuat kebijakan tidak efektif dan efisien," tegasnya.
Banyak partai yang terlibat dalam koalisi juga akan membuat banyaknya agenda pemerintahan yang berasal dari masing-masing partai. Sehingga arah strategis untuk mendukung kebijakan ekonomi kedepan tidak terkendali.
"Kalau terlalu banyak partai, maka akan banyak agenda. Sehingga platform kebijakan pemerintah menjadi tidak strategis," pungkasnya. (detik.com)