korea by dewanti

Friday, May 2, 2014

Akhir Pekan, IHSG Ditutup Melemah Tipis

Jakarta -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tak mampu bertahan di zona hijau, setelah koreksi yang terjadi mulai perdagangan sesi II. Sektor pertambangan menjadi yang terkoreksi paling dalam, yaitu 1,92%.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pun ikut mengalami pelemahan 38 poin (0,33%) menjadi Rp 11.525 per dolar AS.
Pada Jumat (2/5/2014), IHSG dibuka 4.845,341. Indeks sempat mencapai posisi tertinggi di 4.858,907 pada sesi I. Namun pada sesi II, Indeks cenderung melemah dan berakhir di 4.838,76. Turun 1,386 poin (0,03%).
Perdagangan hari ini cenderung datar dengan frekuensi 195.071 kali, 4,65 miliar saham, dan nominal Rp 5,53 triliun.
 
Berikut situasi bursa-bursa regional sore hari ini:
  • Indeks Nikkei 225 naik terkoreksi 27,62 poin (0,19%) menjadi 14.457,51.
  • Indeks Hang Seng menguat 126,7 poin (0,57%) menjadi 22.260,67.
  • Indeks Straits Times melemah 15,56 poin (0,48%) menjadi 3.249,15.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 4.100 ke Rp 74.000, Gowa Makassar Tourism Development (GMTDA) naik Rp 1.200 ke Rp 7.400, Siloam International Hospitals (SILO) naik Rp 1.000 ke Rp 12.000, dan Gudang Garam (GGRM) naik Rp 800 ke Rp 57.300.
Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Multi Bintang Indonesia (MLBI) turun Rp 3.000 menjadi Rp 1.127.000, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) turun Rp 500 menjadi Rp 21.450, Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 475 menjadi Rp 25.000, Siantar Top (STTP) turun 350 menjadi Rp 2.500, dan Mitra Adiperkasa (MAPI) turun Rp 250 menjadi Rp 6.125. (detik.com)

Indeks Stoxx Europe 600 Turun 0,1% Tunggu Data Pekerja AS

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Eropa terpantau sedikit berubah sebelum dirilisnya data laporan pekerja AS.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 turun 0,1% ke level 338,24 pada perdagangan Jumat (2/5/2014) pukul 08.08 waktu London atau pukul 14.08 WIB.
Saham Royal Bank of Scotland Group Plc mencetak reli 9,6%, sementara itu saham Software AG tergelincir 3,2%.
Indeks berjangka Standard & Poor's 500 naik kurang dari 0,1%, dan indeks MSCI Asia Pacific menguat 0,2%.
Sejumlah ekonom memprediksi data tenaga kerja AS akan naik pada April. Adapun tingkat pengangguran diprediksi turun 6,6%. Pada bulan lalu, data pekerja juga meningkat menjadi 218.000.

Link Net Siapkan Belanja Modal Rp1,035 Triliun

Bisnis.com, JAKARTA—PT Link Net mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,035 triliun untuk memperkuat jaringan pada tahun ini.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Link Net Dicky Setiadi Moechtar menuturkan sekitar 80%-90% belanja modal berasal dari kas internal, sedangkan sisanya bersumber dari pinjaman bank.
"Pasar Link Net masih tergantung pada jumlah kabel sehingga jaringan harus diperkuat," tuturnya, Jumat (2/5/2014).
Oleh karena itu, nantinya belanja modal itu akan digunakan untuk menyediakan (roll on) peralatan pendukung, berupa set-top-box dan modem. "Dana itu juga dialokasikan untuk peralatan yang akan ditaruh di rumah pelanggan," tuturnya.
Link Net menawarkan harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) di kisaran Rp1.575 hingga Rp1.600 per saham dengan target dana yang akan dihimpun di kisaran Rp479 miliar hingga Rp487 miliar.
Perseroan melepas sekitar 304,26 juta saham atau setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh milik induk usahanya PT First Media Tbk. (KBLV).
Dalam prospektus yang dirilis perseroan, First Media mengantongi 66,06% saham Link Net per Desember 2013, sedangkan 33,94% sisanya dimiliki oleh Asia Link Dewa Pte. Ltd. Setelah IPO, maka saham milik First Media akan terdilusi menjadi 56,06%.
Dalam prospektus yang dirilis perseroan, perseroan akan menggelar penawaran awal (bookbuilding) pada 2—9 Mei 2014 mendatang.
Setelah itu, penyedia jaringan tetap lokal berbasis packet-switched dan jasa layanan Internet itu berencana melakukan pencatatan (listing) saham di Bursa Efek Indonesia pada 2 Juni 2014.
Perseroan menunjuk PT Ciptadana Securities bertindak sebagai penjamin emisi (underwriter) sekaligus stand-by buyer.