korea by dewanti

Wednesday, December 4, 2013

Indocement Beli Tarabatuh Manunggal Senilai Rp65 M

INILAH.COM, Jakarta - Anak usaha PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) beli PT Tarabatuh Manunggal pada 2 Desember 2013 senilai Rp65 miliar.
Pembelian tersebut melalui dua anak usahanya PT Mandiri Sejahtera Sentra (MSS) dan PT Pionirindo Industri (PBI). Demikian mengutip keterangan resmi perseroan, Selasa (3/12/2013).
Pembelian saham tersebut berasal dari para pemegang saham Tarabatuh antara lain Setiadi Widjaja 37.600 saham, Probo Yunia 26.960 saham, Felix Binarta 120 saham dan Rocky Prawisuda Rahadianto 120 saham. PT Tarabatuh Manunggal adalah sebuah perusahaan yang terletah di Serpong Tangerang Selatan dan bergerak dalam bidang usaha agregat.
Para pihak pemegang saham Tarabatuh sebelumnya bukan pihak yang terafiliasi dengan MSS dan PBI dan juga dengan perseroan. Adapun tujuan transaksi ini adalah sebagai penunjang kegiatan usaha beton siap pakai.

Dirut Indocement Mundur

INILAH.COM, Jakarta—Direktur Utama PT Indocement Prakarsa Tbk (INTP), Daniel Lavalle mengajukan pengunduran diri dari perusahaan.
Sekretaris Perusahaan Indocement Sahat Panggabean dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (03/12/2013) menyatakan, pengunduran diri Lavalle efektif sejak 1 Mei 2014.
Selain Lavalle, Direktur Komersial Nelson Borch juga mengajukan pengunduran diri. Borch efektif mundur setelah rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Jumat (06/12/2013).
Heidelberg Cement Group, pemilik saham mayoritas Indocement lewat anak usahanya Birchwood Omnia Limited mengajukan calon pengganti Lavalle, yakni Christian Kartawijaya. Christian diusulkan menjadi Direktur Utama per 1 Mei 2014. Sebelum diangkat sebagai Direktur Utama, Christian terlebih dahulu diangkat sebagai Direktur Indocement pada 1 Januari 2014.
Sekadar informasi, Christian pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan Indocement 1 September 2004—1 Juni 2011. Kemudian dia melanjutkan pendidikan ke luar negeri, lalu kembali tahun 2013.

Sinyal Positif Dari The Fed

INILAH.COM, Jakarta - Masih buramnya pasar tenaga kerja bakal memaksa The Fed menunda rencana pemotongan dana stimulus. Perekonomian India juga mulai pulih.
Seperti diperkirakan sebelumnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya terjungkal. Selasa ini (3/12/2013), indeks ditutup melemah 24,51 poin (0,57%) ke level 4.297,47. Ini terjadi karena investor tak tahan lagi melihat perkembangan yang terjadi di bursa dunia, terutama di Wall Street.
Tadi pagi, indeks Dow Jones dan Nasdaq ditutup melemah 0,48% dan 0,36%. Seperti dikomando, kecuali bursa Tokyo dan Singapura, hampir semua bursa ikut-ikut lesu. Indeks Hang Seng dan Kospi, misalnya, hari ditutup melemah 0,53% dan 1,05%. Sementara Nikkei dan Straits Times masing-masing mencatat kenaikan 0,60% dan 0,06%.
Penurunan yang terjadi di Wall Street tak lepas dari kekahawatiran The Fed atas masih suramnya pasar tenaga kerja. Hingga September 2013, pengguran masih berada di level 7,2%. Padahal, jika angkanya bisa diteken di level 6,5%, The Fed berencana menaikan suku bunga acuan. "Pasar tenaga keeja masih menjadi hambatan terbesar The Fed untuk mengerek suku bunga," ujar Janet Yallen, calon pengganti Ben Bernanke sebagai Gubernur The Fed.
Dengan masih suramnya pasar tenaga kerja, para analis yakin The Fed akan menunda rencana pemotongan dana anggaran stimulus (Quantitative Easing III). Seperti diketahui, pemangkasan anggaran stimulus akan diumumkan dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang akan berlangsung 17 – 18 Desember.
Jelas, ini kabar baik. Apalagi perekonomian India juga mulai membaik. Palaniappan Chridambaram, Menteri Keuangan India, memperkirakan defisit transaksi berjalan negerinya bisa ditekan dari US$ 87,8 miliar tahun lalu menjadi US$ 56 miliar tahun ini (Maret 2013 – Maret 2014).
Sentimen positif juga datang dari dalam negeri. Dengan terkendalinya inflasi dan neraca perdagangan, diyakini BI akan mempertahankan suku bunga acuan. Itu sebabnya, sejumlah analis optimis bursa akan kembali bergairah. "Data ekonomi Indonesia yang positif itu akan mewarnai bursa," kata Wilson Sofan, Kepala Riset Reliance Securities.