korea by dewanti

Tuesday, December 17, 2013

Gubernur BI dan Menkeu Rapat Hingga Larut Malam Bahas Nasib Ekonomi RI 2014

Jakarta -Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) yang berisikan Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melangsungkan rapat malam hari ini. Rapat membahas soal ekonomi Indonesia tahun depan.
"Kita melihat kondisi perkeonomian yang baik. Terlihat kondisi nilai tukar rupiah, SUN (Surat Utang Negara), lembaga keuangan non bank, dan perbankan. Kita melihat kita punya satu tingkat confidence (kepercayaan diri) untuk masuk ke 2014," ungkap Gubernur BI Agus Martowardojo usai rapat di Gedung Djuanda I, kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (16/12/2013).
Selain Agus Marto, rapat juga dihadiri oleh Menteri Keuangan Chatib Basri, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Haddad, Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Heru Budiargo, beserta jajarannya dari masing-masing lembaga. Rapat dimulai sekitar pukul 19.00 WIB hingga 23.15 WIB. Ini merupakan rapat terakhir FSSK pada tahun ini.
Agus menjelaskan, kondisi stabilitas keuangan Indonesia berada dalam tahap normal. Meskipun pada tahun 2014 ada tantangan pengurangan stimulus (tappering off) oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yaitu Federal Reserve atau The Fed.
"Kita sudah melakukan assessment (penyesuaian) kondisi stabiltas keuangan kita. Keadaan yang baik normal, dan kita melihat sebagai suatu kondisi untuk mengakhiri tahun 2013. Kita di tingkat dunia, ada tantangan oleh rencana The fed," terang Agus.
Sementara untuk tantangan dalam negeri, Agus mengatakan sudah ada perbaikan untuk transaksi defisit berjalan atau current account defisit (CAD). Agus menargetkan tahun depan defisit anggaran pemerintah (APBN) mampu dijaga di bawah 3% dari PDB.
"Indonesia akan lebih baik dari sebelumnya. Kalau sebelumnya kita melihat CAD belum di bawah 3%, sekarang kita sudah lihat bahwa kita akan menuju defisit di bawah 3%," ujarnya.
Agus meminta semua pihak untuk tetap mewaspadai setiap kondisi yang ada. Kepercayaan diri untuk menghadapai tantangan tahun depan jangan diartikan sebagai kesempatan untuk tidak waspada.
"Kita persiapkan diri yang terbaik, yang bisa kita jaga kita lakukan dengan baik. Kita tidak ingin memberi kesan terlalu percaya diri dan semua lengah. Kita ingin semua tetap waspada," paparnya. (detik.com)

Positifnya Data Ekonomi AS dan Eropa Bikin Wall Street Ceria

New York -Saham-saham di Wall Street berakhir positif setelah pekan lalu alami pekan terburuknya sejak Agustus. Data ekonomi yang solid dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa mendorong optimisme investor menjelang pertemuan The Federal Reserve pekan ini.
Selama ini investor masih bertanya-tanya kapan bank sentral AS akan mulai mengurangi program stimulus pembelian obligasi senilai US$ 85 miliar per bulan miliknya. Beberapa pelaku pasar menebak-nebak pengurangan ini akan mulai dilakukan Maret tahun depan.
Data manufaktur AS menunjukkan adanya peningkatan selama empat bulan berturut-turut sampai November. Selain itu pertumbuhan jumlah tenaga kerja baru bulan lalu juga jadi sinyak bagi The Fed untuk mengurangi stimulusnya dalam waktu dekat.
Sebelumnya The Fed sudah menyatakan akan mulai mengurangi stimulus jika data-data ekonomi sudah mencapai titik tertentu.
Sementara dari Eropa data manufaktur dan aktivitas bisnis kembali naik di Desember. Melambatnya manufaktur China jadi berkah menggeliatnya aktivitas pabrik-pabrik di Eropa.
"Ada banyak sinyal positif di AS yang muncul, pemulihan ekonomi dunia sedang berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga keputusan The Fed mengurangi stimulus akan positif untuk jangka panjang," kata Peter Jankovskis, wakil kepada investasi pasar dari OakBrook Investments di Lisle, Illinois, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (17/12/2013).
Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, Indeks Dow Jones naik 129,21 poin (0,82%) ke level 15.884,57, Indeks S&P 500 bertambah 11,22 poin (0,63%) ke level 1.786,54, dan Indeks Komposit Nasdaq menguat 28,542 poin (0,71%) ke level 4.029,518. (detik.com)

Dolar Capai Rp 12.100, BI Nilai Masih Aman

Jakarta -Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terus terjadi. Dolar AS pun bahkan mencapai Rp 12.100 dalam beberapa hari terakhir.
Bank Indonesia (BI) menilai hal itu masih sesuai dengan fundamental perekonomian negara. Angka Rp 12.100/US$ menurutnya masih bisa dikategorikan aman.
"Masih aman dan itu adalah cerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Kalau kondisi yang ada adalah kondisi yang mencerminkan dunia," ungkap Agus usai rapat Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), Senin malam (16/12/2013) .
Ia menambahkan kondisi nilai tukar hampir setiap negara hari ini negatif, termasuk Indonesia. Tentunya harus ada penyikapan dari BI. Akan tetapi, Agus menilai perlu ada ketenangan menghadapi persoalan tersebut.
"Haru bisa tetap tenang melihat itu dan yakinkan BI ada di pasar menjaga stabilitas dan Indonesia ada dalam kondisi yang lebih baik dari sebelumnya," jelas Agus.
Agus menuturkan, perbaikan terlihat dari defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Tahun 2014 ditargetkan berada di bawah 3% dari PDB. Di samping itu perbaikan, tidak perlu waktu yang lama.
"Sekarang kita sudah bisa lihat angka defisit di 2014 bisa di bawah 3%. Ini kondisi yang baik dan kita capai dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama," sebutnya.
Sementara itu unntuk cadangan devisa (cadev), menurutnya cukup baik berada pada US$ 97 miliar. Sehingga mampu, jika diperlukan intervensi dari Bank Sentral.
"Kemarin di November-Desember gejolak mata uang bukan main dan BI lakukan intervensi terukur tapi diikuti cadangan devisa kita msh US$ 97 miliar. Jadi walaupun kita aktif kita masih bisa jaga sama dengan bulan lalu walaupun situasi bergejolak," terangnya. (detik.com)