korea by dewanti

Monday, June 23, 2014

Mandiri Sekuritas: Potensi Koreksi Lanjutan Masih Ada

Jakarta -Pasar saham AS terus melakukan rally penguatan pada akhir pekan lalu, seiring dengan ekspektasi investor terhadap pemulihan ekonomi Paman Sam. Penguatan itu diapresiasi dengan kenaikan indeks Dow Jones Industrial Avg sebesar +0,2% dan indeks S&P500 sebesar +0,2%. Dari pasar Asia, pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh meredanya tensi konflik di Irak. Apresiasi pasar saham Asia ditunjukkan oleh indeks Nikkei 225 sebesar +0,52% dan indeks KOSPI Composite di Korea Selatan +0,35%. Sementara harga kontrak berjangka (futures) komoditas juga terapresiasi. Harga minyak mentah WTI naik +0,33% ke level US$104,90 per barel. Sedangkan harga emas Comex menguat +0,10% ke posisi US$1.316,20 per troy ounce. Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah masih terus melemah terhadap dolar AS, dan membebani pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Di sisi lain, investor masih melakukan wait and see menanti pemilihan presiden dan rilis laporan keuangan perusahaan tercatat (emiten) semester satu pekan depan. Menurut Analis Teknikal Mandiri Sekuritas, IHSG pekan lalu diperdagangkan di atas EMA 200 hari. Indeks koreksi dan breakdown support di 4.849. Indicator RSI di area 40% dan potensi koreksi lanjutan masih terbuka. Hari ini indeks akan bergerak mixed dengan penurunan terbatas menguji support selanjutnya di 4.835. Indeks akan bergerak di kisaran support 4.835 dan resistance 4.872. (detik.com)

Harga Emas Antam Stagnan di Awal Pekan

Jakarta -Setelah akhir pekan lalu mencatatkan kenaikan signifikan, hari ini harga emas batangan Logam Mulia milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tidak bergerak. Harga pembelian kembali (buyback) pun ikut stagnan.
Seperti dikutip dari situs resmi Logam Mulia Antam, Senin (23/6/2014), harga emas Antam tercatat Rp 549.000 per gram. Tidak berubah dari akhir pekan lalu.
Sementara harga buyback emas Logam Mulia Antam juga tetap sebesar Rp 488.000 per gram.
 
Berikut daftar harga emas Antam hari ini:
  • 500 gram Rp 254.800.000
  • 250 gram Rp 127.500.000
  • 100 gram Rp 51.050.000
  • 50 gram Rp 25.550.000
  • 25 gram Rp 12.800.000
  • 10 gram Rp 5.150.000
  • 5 gram Rp 2.600.000
  • 4 gram Rp 2.080.000
  • 3 gram Rp 1.569.000
  • 2,5 gram Rp 1.312.500
  • 2 gram Rp 1.058.000
  • 1 gram Rp 549.000
sumber: detik.com

Jokowi Mau Buyback Saham Indosat, Ini Kata Dirutnya

Jakarta -Calon Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana membeli kembali (buyback) saham PT Indosat Tbk (ISAT) yang dulu dijual oleh pemerintah. Ini tanggapan dari bos Indosat.
"Kalau buyback urusan pemegang saham lah itu. Manajemen tugasnya maximize shareholder value, saat ini Pemerintah RI juga salah satu shareholder," kata Direktur Utama Indosat Alexander Rusli kepada detikFinance, Minggu (22/6/2014) malam.
Jokowi menyatakan akan buyback saham Indosat jika terpilih sebagai presiden itu menjawab pertanyaan dari capres Prabowo Subianto dalam debat capres Minggu malam.
Menurut Jokowi, Indosat adalah perusahaan strategis yang mayoritas sahamnya sebaiknya dimiliki kembali oleh pemerintah Indonesia. Indosat dinilai strategis karena memiliki satelit sendiri.
"Yang satu satelit kan sudah diambil pemerintah untuk diberikan ke BRI. (Indosat) tinggal satu," ujarnya.
Saat ini Pemerintah Indonesia pegang 14,29% saham Indosat, sedangkan mayoritasnya dikuasai Ooredoo Asia Pte Ltd sebanyak 65%. Sisanya sekitar 20,71% beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Itu kan urusan pemegang saham. Sebagai perusahaan publik, shareholder ganti setiap hari. Ini juga tidak ada bedanya," ujarn pria yang akrab disapa Alex itu.
Pada saat debat berlangsung Jokowi menegaskan penjualan saham Indosat ke pihak asing dilakukan karena situasi perekonomian nasional yang terdampak krisis.
"Tadi sudah jelas sekali saat itu krisis dan terimbas krisis kemudian kita membutuhkan anggaran untuk menggerakan ekonomi dan yang kita punyai dan kita bisa jual barang itu. Tentu itu kita lakukan dengan catatan itu masih kita bisa beli," kata Jokowi dalam debat capres di Hotel Holiday Inn, Jakarta.
Jokowi meminta keputusan pemerintah saat itu yang dipimpin Megawati Soekarnoputri tidak disalahkan. "Jangan menyalahkan pemerintah yang dulu karena pemerintah dulu kondisinya berbeda. Kondisi normal dan krisis berbeda sehingga tidak bisa dibandingkan," ujarnya.
"Tidak usah melihat ke belakang, saya melihat ke depan. Ke depan kita ingin ambil lagi," sambung Jokowi. (detik.com)