korea by dewanti

Tuesday, February 4, 2014

Banyak Proyek Baru, Penjualan Intiland Naik 53%

Bisnis.com, JAKARTA—Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk. (DILD) membukukan marketing sales sebesar Rp2,53 triliun, melonjak 53,3% dibandingkan dengan pencapaian 2012 senilai Rp1,65 triliun.
Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono mengungkapkan bahwa meningkatnya nilai marketing sales di tahun 2013 didorong oleh momentum peluncuran beberapa proyek baru.
Faktor lainnya adalah adanya tren meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk properti, baik pada segmen hunian, perkantoran, maupun kawasan industri, baik untuk kepentingan bisnis maupun investasi.
"Secara keseluruhan, hasil kinerja kami di tahun 2013 meningkat. Nilai marketing sales mencapai Rp2,53 triliun, atau 15% lebih tinggi dibandingkan dengan target awal sebesar Rp2,2 triliun," ujar Archied dalam keterangan resminya, Selasa (4/2/2014).
Adapun pendapatan dari pengembangan (development income), ungkapnya, tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp2,37 triliun atau 93,77% dari total nilai marketing sales 2013. Sisanya sebesar Rp157,87 miliar atau 6,22% berasal dari pendapatan berkelanjutan (recurring income).
Ditinjau dari segmentasi produknya, kontributor tertinggi berasal dari produk-produk mixed-use dan high rise sebesar Rp1,63 triliun, atau 63,4%. Kontribusi berikutnya berasal dari kawasan perumahan sebesar Rp601,66 miliar atau 23,72%.
Kawasan Industri memberikan kontribusi sebesar Rp259,65 miliar atau 10,23%, dan hospitality menghasilkan Rp23,69 miliar atau sekitar 0,93%, serta sisanya sebesar Rp42,55 miliar atau 1,67% berasal dari sumber pendapatan lainnya.
Meningkatnya nilai marketing sales tersebut tidak lepas dari strategi perusahaan dalam meluncurkan proyek-proyek baru dalam dua tahun terakhir.
"Proyek-proyek tersebut seperti apartemen 1Park Avenue, kawasan bisnis South Quarter, dan perumahan Serenia Hills tahap II, dan pengembangan kawasan industri," ungkap Archied.
Dari total nilai marketing sales yang diperoleh Intiland, kontributor tertinggi berasal dari proyek kondominium 1Park Avenue di Jakarta Selatan sebesar Rp607,17 miliar atau sekitar 23,94%.
Berikutnya diperoleh dari pengembangan South Quarter di kawasan TB Simpatupang dengan hasil penjualan sebesar Rp483,74 miliar atau 19,07%, disusul kawasan perumahan Serenia Hills di Jakarta Selatan sebesar Rp340,03 miliar atau 13,40% dari keseluruhan nilai marketing sales.
Kawasan industri Ngoro Industrial Park menyumbang nilai marketing sales sebesar Rp259,65 miliar atau sebesar 10,23%. Praxis sebagai pengembangan mixed-use terbaru di Surabaya berhasil memberikan kontribusi signifikan dengan mencatatkan marketing sales Rp199,63 miliar atau sekitar 7,87%.
Proyek baru lainnya, Aeropolis mencatatkan penjualan sebesar Rp140,86 miliar atau sekitar 5,55% dari total nilai marketing sales.

OJK: Persyaratan IPO Blue Bird Belum Lengkap

INILAH.COM, Jakarta - PT Blue Bird masih terus memenuhi persyaratan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO) di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Masih dalam proses (pemenuhan persyaratan), belum bisa dikatakan sudah berapa persen prosesnya. Kalau sudah selesai kita sampaikan," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida di Jakarta, Selasa (4/2/2014).
Terkait persyaratan yang belum dipenuhi oleh perseroan, Nurhaida enggan menyebutkannya karena masih dalam proses. "Tidak bisa saya sebutkan, nanti kita sampaikan," ucap Nurhaida.
Pelaksanaan IPO perusahaan operator taxi ini juga telah mundur dari target awal akhir tahun 2013. Sebab, perseroan menggunakan buku keuangan Juni 2013 dan masa buku tersebut akan habis enam bulan ke depan.
Dalam pelaksanaan IPO, perseroan telah menunjuk PT Danareksa Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek dan sudah melakukan mini expose di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 September 2013. Sebelumnya juga dikabarkan Blue Bird menargetkan dana perolehan IPO senilai US$600 juta.

Ini Penyebab Tingginya Inflasi Januari 2014 Versi BI

Jakarta -Bank Indonesia (BI) melaporkan tiga penyebab dari melejitnya inflasi pada bulan Januari 2014 yang mencapai 1,07%. Porsi terbesarnya adalah akibat dari bencana alam dan banjir yang melanda beberapa kota di Indonesia sejak awal tahun yang membuat harga pangan naik drastis.
Kepala Group Assesment Ekonomi BI Doddy Zulverdi menuturkan setiap tahunnya memang cenderung inflasi Januari tinggi. Ini dikarenakan pola penurunan produksi dan masa tanam dari bahan pangan.
Akan tetapi, ini menjadi buruk karena kondisi bencana seperti letusan gunung dan banjir. Karena menyebabkan distribusi dan pasokan pangan terganggu. Serta kemudian harga pangan tersebut menjadi naik.
"Memang ada masalah pada beberapa komoditas pangan. Setiap tahunnya karena masih dalam waktu produksi. Panen kan biasanya Maret atau April. Tapi ini diperburuk dengan bencana alam, banjir. Terutama Jawa dan Sumatera," kata Doddy saat berbincang dengan media di kantor pusat BI, Jakarta, Selasa (4/2/2014).
Diharapkan agar banjir ke depan sudah tidak terjadi lagi dan bibit tanaman pangan segera didistribusikan. Agar panen tidak bergeser terlalu jauh. BI masih optimis inflasi dapat terkendali hingga akhir tahun.
"BI menilai masih sesuai dengan prediksi, tapi perlu di wasapdai. Terutama dampak dari bencana. Kita berharap ini setelah selesai Imlek itu beres. Jadi faktor risiko itu yang dihitung, Apakah bencana itu masih akan berlanjut atau tidak," terangnya.
Kedua adalah tekanan inflasi akibat kenaikan harga elpiji 12 kg oleh PT Pertamina persero per 1 Januari 2014. Meskipun kenaikan tersebut direvisi menjadi lebih rendah, namun konsumen sudah merasakan elpiji dengan harga yang sangat tinggi.
"Ini masuk dalam tekanan inflasi administered price yang total 1%. Penyebabnya yaitu kenaikan harga elpiji 12 kg," sebutnya.
Sementara yang ketiga adalah pelemahan nilai tukar rupiah (NTR) yang sudah terjadi sejak pertengahan tahun 2013. Akibat pelemahan rupiah memang membuat beberapa harga barang melejit, terutama impor.
"Walaupun tidak semuanya harga naik pada barang yang diimpor. Tapi ada barang yang cukup sensitif, karena ada efek jual pada rupiah makanya harganya juga ikutan naik," paparnya. (detik.com)