korea by dewanti

Monday, May 12, 2014

Jual BBM Subsidi Komisinya Rp 215/Liter

Jakarta -Selain Pertamina, perusahaan swasta juga dapat jatah untuk menjual BBM subsidi, salah satuya adalah PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Perusahaan swasta ini mendapatkan komisi Rp 215 dalam tiap liter BBM subsidi yang dijual.
Tahun ini, AKR mendapatkan jatah untuk menjual BBM subsidi sebanyak 640 ribu kiloliter (KL). Head of Investor Relation and Corporate Planning Heri Akhyar menyebutkan, pihaknya mendapatkan komisi Rp 215 dalam tiap liter BBM subsidi yang dijual.
"Subsidi diberikan ada fee-nya atau komisi dari pemerintah Rp 215 per liter. Penyaluran BBM non subsidi kita mayoritas solar, kalau yang subsidi itu premium," kata Heri saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/5/2014).
Dia menjelaskan, hingga kuartal I-2014, perseroan telah menyerap sedikitnya 25 ribu KL BBM bersubsidi. Hingga akhir tahun, pihaknya menargetkan bisa menyalurkan 500-600 ribu kilo liter BBM bersubsidi.
"Kuartal I penyerapan subsidi 25 ribu kiloliter. Target 500-600 ribu kiloliter sampai akhir tahun," kata dia.
Sementara itu, Heri menyebutkan, tahun ini perseroan menargetkan bisa meraup pendapatan hingga Rp 4 triliun dari penjualan BBM bersubsidi atau lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya Rp 1 triliun.
"Pendapatan tahun kemarin dari BBM subsidi Rp 1 triliun, target Rp 4 triliun akhir tahun ini dari BBM subsidi," kata Heri.

Tanah Kosong Dikuasai Perusahaan Gede, Beli Rumah di Jakarta Makin Sulit

Jakarta -Beberapa perusahaan besar menguasai tanah kosong di Jakarta dan sekitarnya. Akibatnya makin sulit bagi masyarakat untuk beli rumah dengan harga terjangkau.
Pasalnya, tingkat permintaan hunian di Jakarta makin lama makin tinggi namun berbanding terbalik dengan kesediaan lahan. Lahan yang tersedia saja biasanya kena masalah sengketa.
Sehingga mau tidak mau terbentuklah harga properti yang sesuai dengan supply and demand. Memang harga tersebut bisa dibilang cukup tinggi
"Kebutuhan (hunian) masih besar. Tapi sampai sekarang pemerintah tidak concern terhadap penyediaan tanah, akhirnya swasta juga yang bangun," kata Pengamat Properti Setyo Maharso ketika dihubungi detikFinance, Senin (12/5/2014).
Dengan makin terbatasnya tanah di Jakarta dan sekitarnya, maka jika masyarakat ingin punya rumah harus mau beralih ke hunian vertikal alias rumah susun.
Real Estate Indonesia (REI) sudah mengusulkan kepada pemerintah supaya menyediakan banyak hunian vertikal. Caranya dengan memanfaatkan lahan-lahan kumuh.
"Lahan di Jabodetabek masih ada yang bisa dibangun, potensinya besar. REI sudah usul daerah kumuh untuk ditata ulang, istilahnya urban renewal," jelasnya.
Ia memberi contoh, misalnya ada kawasan kumuh seluas 5 hektar. Kawasan ini sekitar 2 hektar dijadikan tempat rumas susun yang bisa menampung banyak warga, sisanya 3 hektar dijadikan taman dan sarana umum lainnya.
Kalau pemerintah tidak bisa mengerjakan, bisa dilelang saja ke swasta. Usulan ini sudah disampaikan REI sejak zaman Fauzi Bowo menjabat Gubernur DKI Jakarta.
"Sudah lama ini diusulkan REI ke Pemda (DKI Jakarta)," ujarnya.
Tanah kosong di Jabodetabek memang makin menyusut, tapi beberapa perusahaan properti yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) punya land bank cukup besar. Tanah kosong yang mereka kuasai tersebar di seluruh Indonesia, paling banyak di Jakarta dan sekitarnya. (detik.com)

Saham Operator Taksi Tetap Menarik di Tahun Pemilu

Jakarta -Di tengah gejolak berbagai kekhawatiran jelang pergantian Presiden Republik Indonesia (RI), saham-saham emiten operator taksi tampaknya bisa menjadi pilihan menarik untuk dikoleksi.
Demikian setidaknya disampaikan Direktur Utama BCA Sekuritas Mardy Sutanto kepada detikFinance di Kempinski Ballroom, Jakarta, Senin (12/5/2014).
"Industri taksi masih akan menggeliat. Kalau pergantian Presiden sepertinya tidak akan banyak berpengaruh. Karena kebutuhan taksi itu kan selalu ada gak peduli siapa presidennya," kata dia dalam kesempatan tersebut.
Menurut Mardy, masih menggeliatnya pertumbuhan emiten operator taksi didasari masih tingginya permintaan moda tranpostasi yang nyaman.
"Masyarakat kelas menengah kita itu kan makin lama makin banyak. Kebutuhan untuk transportasi yang nyaman seperti taksi itu akan selalu ada malah akan terus bertambah. Ini yang bikin kenapa industri taksi masih berpotensi menguat," katanya.
Menurut data Bank Dunia, Kelas menengah Indonesia bertumbuh pesat dan mencapai angka 134 juta orang atau telah medominasi total penduduk Indonesia yang berjumlah 236,6 juta jiwa.
Angka ini pun diyakini akan terus meningkat seiring terus meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kelas menengah tersebut selama ini jadi target pasar operator taksi. (detik.com)