korea by dewanti

Friday, May 23, 2014

Perdagangan Sepi,IHSG Naik Tipis 3 Poin

Jakarta -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir naik tipis 3 poin di tengah perdagangan yang sepi. Indeks konsolidasi dulu sebelum menuju level psikologis 5.000.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah di posisi Rp 11.535 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 11.520 per dolar AS.
Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG naik tipis 3,660 poin (0,07%) ke level 4.973,542. Indeks semakin mendekati level psikologis 5.000 berkat aksi beli investor.
Indeks bergerak dalam rentang yang tidak terlalu lebar pagi ini. Investor asing masih berburu saham, sementara beberapa pelaku pasar domestik ada yang mengambil untung.
Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG naik 4,438 poin (0,09%) ke level 4.974,320. Indeks bergerak fluktuatif sambil memperkuat posisi sebelum melaju ke level resisten berikutnya.
Indek terus bergerak naik-turun antara zona merah dan hijau sebelum akhirnya ada aksi beli yang menahan indeks di zona hijau. Indeks sempat jauh hingga ke titik terendahnya di 4.959,170 sebelum kembali positif.
Mengakhiri perdagangan akhir pekan, Jumat (23/5/2014), IHSG ditutup naik tipis 3,175 poin (0,06%) ke level 4.973,057. Sementara Indeks LQ45 ditutup menguat tipis 0,236 poin (0,03%) ke level 847,690.
Saham-saham komoditas dan konsumer menopang penguatan bursa kali ini. Saham bank yang kemarin naik tinggi kini mulai dilepas untuk ambil untung.
Transaksi investor sampai sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 324,87 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Investor asing masih konsisten beli bersih sejak dua pekan terakhir ini.
Perdagangan siang hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 161.589 kali pada volume 3,729 miliar lembar saham senilai Rp 4,823 triliun. Sebanyak 151 saham naik, 115 turun, dan 108 saham stagnan.
Bursa-bursa di Asia bergerak mixed hingga siang hari ini. Sentimen positif dari Wall Street semalam kurang diserap dengan baik oleh pelaku pasar regional.
 
Berikut kondisi bursa-bursa regional hingga siang hari ini:
  • Indeks Nikkei 225 melonjak 156,51 poin (1,09%) ke level 14.494,30.
  • Indeks Hang Seng turun tipis 17,44 poin (0,08%) ke level 22.936,32.
  • Indeks Komposit Shanghai menipis 0,67 poin (0,03%) ke level 2.020,62.
  • Indeks Straits Times menguat 7,92 poin (0,24%) ke level 3.273,58.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 675 ke Rp 29.775, Siloam (SILO) naik Rp 550 ke Rp 13.050, Citra Turbindo (CTBN) naik Rp 300 ke Rp 5.500, dan Siantar Top (STTP) naik Rp 280 ke Rp 2.980.
Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mayora (MYOR) turun Rp 400 ke Rp 28.900, Matahari (LPPF) turun Rp 300 ke Rp 14.350, Mitra Adiperkasa (MAPI) turun Rp 275 ke Rp 5.100, dan Adira Finance (ADMF) turun Rp 175 ke Rp 11.600. (detik.com)

Utang Luar Negeri Sentuh US$ 276,5 M, BI Minta Menkeu Ikut Awasi

Jakarta -Bank Indonesia (BI) meminta kepada pemerintah khususnya Menteri Keuangan untuk ikut mengawasi pergerakan utang luar negeri. Meskipun saat ini utang luar negeri dinilai masih dalam batas aman, namun tetap perlu kewaspadaan.
"Saya ingin ingatkan untuk perusahaan BUMN yang besar, itu langsung risikonya kepada negara. BUMN yang 100% dimiliki pemerintah, negara, itu risiko langsung kepada negara. Untuk itu, pemerintah perlu memberi perhatian, khususnya Menkeu," tegas Gubernur BI Agus Martowardojo saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (23/5/2014).
Untuk utang luar negeri korporasi swasta, Agus pun menyatakan perlu mendapat perhatian. Ini karena pertumbuhannya yang cukup tinggi, bahkan melebihi utang luar negeri pemerintah.
"Memang harus diwaspadai karena utang dari korporasi cenderung meningkat. Kita melihat masih banyak korporasi berutang valas tetapi penerimaan dalam rupiah. Beberapa korporasi termasuk BUMN rugi besar," terang dia.
Agus juga meminta kepada perusahaan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan makin tingginya beban utang luar negeri akibat pergerakan kurs. Untuk itu, perlu dilakukan lindung nilai (hedging). Namun sepertinya hedging belum terlalu diminati.
"Utang luar negeri, khususnya bagi perusahaan yang penerimaan bukan dalam valas, itu membuat risiko. Kita sudah minta dari tahun lalu lakukan lindung nilai. Peraturan sudah dikeluarkan tapi relatif tidak dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan termasuk BUMN," tutur Agus.
Padahal, demikian Agus, hedging sangat membantu ketika terjadi gejolak nilai tukar. Ini bisa menghindarkan korporasi dari kerugian akibat selisih valas.
"Kalau seandainya perusahaan-perusahaan itu tadinya untung kemudian jadi rugi besar, tidak bisa hanya mengatakan karena perubahan nilai tukar. Harus tahu kalau ada risiko nilai tukar. Perusahaan tidak bisa dibiarkan terus masuk dalam kondisi berisiko," sebut Agus.
Sebagai informasi, BI mencatat utang luar negeri Indonesia pada Maret 2014 sebesar US$ 276,5 miliar, tumbuh 8,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Utang ini terdiri dari US$ 130,5 miliar utang publik dan US$ 146 miliar utang swasta.
Laju pertumbuhan utang luar negeri meningkat dibandingkan posisi Februari, yang secara tahunan tumbuh 7,5%. Menurut BI, pertumbuhan utang luar negeri mengalami peningkatan sejak akhir tahun lalu, terutama didorong oleh sektor swasta.
Pada Maret 2014, utang luar negeri swasta tumbuh 12,2% secara tahunan. Lebih tinggi dibandingkan sektor publik yang tumbuh 5,1%. Jika dibandingkan secara bulanan (Februari ke Maret), maka pertumbuhan utang luar negeri swasta adalah 1,9% sementara utang luar negeri publik tumbuh 1,1%. (detik.com)

Bursa Thailand Sempat Anjlok 2,1%

Bangkok -Bursa saham Thailand mengalami tekanan sejak pembukaan perdagangan pagi tadi. Kudeta yang dikumandangkan militer kerajaan Thailand kemarin jadi sentimen negatif.
Siang tadi indeks acuan di Bursa Bangkok, Indeks SET sempat jatuh hingga 2,1% ke titik terendahnya hari ini di 1.375,41. Indeks acuan itu sama sekali tidak menyentuh zona hijau hingga sore hari ini.
Hingga pukul 15.15 waktu setempat, Indeks SET berada di level 1.391,66 setelah turun 13,55 poin (0,96%). Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (23/5/2014), saham perusahaan migas ternama PTT dan Kasikornbank jatuh paling dalam, masing-masing 1.6% dan 2,9%.
Dua saham berkapitalisasi besar itu menyeret Indeks SET ke zona merah. Bursa Bangkok sudah merah sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.
Seperti diketahui, Panglima Militer Thailand Jenderal Prayut Chan-Ocha menyatakan telah mengambil alih kekuasaan negara di tengah berlangsungnya krisis politik berkepanjangan di negeri itu.
Kudeta militer ini diumumkan secara langsung oleh sang jenderal dalam pidatonya yang disiarkan stasiun televisi kemarin. (detik.com)