korea by dewanti

Monday, May 26, 2014

Sepi Transaksi di Hari Kejepit, IHSG Menipis 9 Poin

Jakarta -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menipis 9 poin menjelang libur Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Transaksi di hari kejepit ini cenderung sepi.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 11.570 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 11.535 per dolar AS.
Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG naik 11,633 poin (0,23%) ke level 4.984,690. Secara perlahan Indeks mendekati lagi level 5.000.
Aksi beli investor asing masih berlanjut, bersamaan dengan aksi ambil untung investor domestik. Indeks hanya mampu naik sampai ke 4.986,085 sebelum akhirnya jatuh ke zona merah.
Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG turun tipis 10,396 poin (0,21%) ke level 4.962,661 di tengah perdagangan yang sepi. Investor lokal kembali melepas saham demi ambil untung.
Aksi profit taking membuat indeks gagal menyentuh level 5.000. Banyaknya hari 'kejepit' karena dua tanggal merah di pekan ini membuat transaksi di lantai bursa minim.
Menutup perdagangan awal pekan, Senin (26/5/2014), IHSG berkurang 9,132 poin (0,18%) ke level 4.963,925. Sementara Indeks LQ45 menipis 1,972 poin (0,23%) ke level 845,718.
Enam sektor menyeret IHSG ke zona merah, yaitu agrikultur, pertambangan, aneka industri, konstruksi, finansial, dan perdagangan. Aksi lepas saham ini didominasi investor lokal.
Investor asing masih terus tanam duit di lantai bursa. Transaksi investor asing sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (net foreign buy) senilai Rp 67,52 miliar di seluruh pasar.
Perdagangan siang hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 136.050 kali pada volume 4,529 miliar lembar saham senilai Rp 4,266 triliun. Sebanyak 112 saham naik, 152 turun, dan 103 saham stagnan.
Bursa-bursa Asia mengakhiri perdagangan awal pekan dengan mixed. Bursa saham Hong Kong berkurang tipis terkena aksi ambil untung.
 
Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di regional sore hari ini:
  • Indeks Nikkei 225 naik 140,35 poin (0,97%) ke level 14.602,52.
  • Indeks Hang Seng menipis 2,68 poin (0,01%) ke level 22.963,18.
  • Indeks Komposit Shanghai menguat 6,91 poin (0,34%) ke level 2.041,48.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Maskapai Reasuransi (MREI) naik Rp 600 ke Rp 3.400, Bali Towerindo (BALI) naik Rp 280 ke Rp 2.300, Matahari (LPPF) naik Rp 250 ke Rp 14.600, dan Waran Bali Towerindo (BALI-W) naik Rp 210 ke Rp 1.530.
Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Bina Dana (ABDA) turun Rp 500 ke Rp 5.000, Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 450 ke Rp 7.525, Lippo Insurance (LPGI) turun Rp 290 ke Rp 4.010, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 250 ke Rp 68.500. (detik.com)

Inilah Prospek Bursa Negara Berkembang

INILAHCOM, Hong Kong - Bursa saham negara berkembang atau Emerging Market (EM) tampaknya selalu menjadi primadona bagi para investor asing. Bagaimana prospeknya?
Akan tetapi, pandangan dari beberapa pakar ekonomi justru mengindikasikan bahwa situasi sekarang telah berubah haluan menyusul saham di negara-negara tersebut yang terus mengalami kenaikan.
"Pertukaran terjadi di mulai April setelah negara berkembang fokus pada ETF dan reksa dana sebagai arus dana masuk," ungkap John Higgins, Kepala Ekonom di Capital Economic, seperti mengutip dari cnbc.com, Senin (26/5/2014).
Selain itu, pembelian aset oleh The Fed pada Mei lalu mengakibatkan investor berlomba menarik uangnya dari negara berkembang. Dampaknya mendorong terjadinya depresiasi tajam mata uang EM termasuk mata uang peso Argentina dan mata uang lira Turki.
Namun demikian, menguatnya perekonomian AS dan Eropa meningkatkan sentimen positif bagi bursa global. Hal ini berdampak dengan semakin meningkatnya permintaan para investor asing. Tren ini terjadi di sebagian besar bursa saham Asia pada bulan Mei antara lain, pasar saham di India, Indonesia, Filipina, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam.
Adapun India dengan pergerakan di bursa Sensexnya yang mengalami pergerakan reli berhasil mendekati kenaikan 10 persen tertinggi di bulan ini. Sementara bursa saham Indonesia naik sekitar 2,7 persen.
Rajiv Biswas, Kepala Ekonom Asia Pasifik di IHS Global Insight menjelaskan ada tiga faktor yang mendasari dapat terjadinya perbaikan. Hal itu seperti proses rebalancing portofolio jauh dari EM dan ke DMS telah selesai.
Investor mengharapkan perekonomian di AS dan Eropa semakin kuat demi pertumbuhan untuk meningkatkan momentum ekspor untuk EM. Selain itu juga karena investor lebih baik dalam membedakan mana yang lebih kuat atau lebih lemah antara negara-negara di kawasan tersebut.
Akan tetapi, Biswas mengatakan bahwa ada faktor-faktor khusus yang turut mendukung beberapa pasar negara berkembang. Kondisi ini mengarah terjadinya rebound pada pasar saham negara tersebut. Di India, misalnya terdapat sentimen positif terkait dengan hasil pemilu baru-baru ini telah menarik investor asing.
Capital Exonomic juga menilai dari sisi aset pasar di EM akan mengalami tekanan. Bahkan harga asetnya berpotensi menyamai harga di negara maju. Tetapi mereka tidak ingin terjadi perbedaan yang mencolok di antara EM.
"Pasar modal EM mengalami tekanan termasuk karena kurang akomodatifnya kebijakan moneter dari AS. Pertumbuhan struktgural yang lebih lambat di BRICs (Brazil, Rusia, India dan China, harga komoditas yang melemah dan ketidakstabilan politik di sejumlah tempat," lanjut Hinggins.
Pertumbuhan ekonomi di BRICSs bersamaan dengan kebijakan Fed memicu kejenuhan di kalangan investor asing. Hal ini akan memperlambat arus modal asing.

Tjiwi Kimia Bidik Rp1,33 Triliun dari Right Issue

Bisnis.com, JAKARTA-- PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) berpotensi meraup dana Rp1,33 triliun dari hasil penawaran umum terbatas II dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue.
Direksi perseroan dalam keterbukaan informasi yang dirilis, Senin (26/5/2014) menjelaskan pihaknya akan menerbitkan sebanyak 1,33 miliar saham biasa atas nama dengan nilai nominal Rp1.000 per saham  yang ditawarkan dengan harga Rp1.000 per saham.
Selain itu, perseroan juga akan menerbitkan 445,23 juta waran seri II yang diterbitkan menyertai saham biasa atas nama hasil pelaksanaan right issue. Saham yang berasal dari pelaksanaan right issue adalah sebanyak 50% dari jumlah saham setelah HMETD, dan saham hasil pelaksanaan waran seri II adalah 14,29% dai total jumlah saham setelah HMETD.
Setiap pemegang 1 saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada 8 Juli 2014 pukul 16.00 WIB mempunyai 1 HMETD, di mana setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru yang ditawarkan.