korea by dewanti

Monday, May 26, 2014

Inilah Prospek Bursa Negara Berkembang

INILAHCOM, Hong Kong - Bursa saham negara berkembang atau Emerging Market (EM) tampaknya selalu menjadi primadona bagi para investor asing. Bagaimana prospeknya?
Akan tetapi, pandangan dari beberapa pakar ekonomi justru mengindikasikan bahwa situasi sekarang telah berubah haluan menyusul saham di negara-negara tersebut yang terus mengalami kenaikan.
"Pertukaran terjadi di mulai April setelah negara berkembang fokus pada ETF dan reksa dana sebagai arus dana masuk," ungkap John Higgins, Kepala Ekonom di Capital Economic, seperti mengutip dari cnbc.com, Senin (26/5/2014).
Selain itu, pembelian aset oleh The Fed pada Mei lalu mengakibatkan investor berlomba menarik uangnya dari negara berkembang. Dampaknya mendorong terjadinya depresiasi tajam mata uang EM termasuk mata uang peso Argentina dan mata uang lira Turki.
Namun demikian, menguatnya perekonomian AS dan Eropa meningkatkan sentimen positif bagi bursa global. Hal ini berdampak dengan semakin meningkatnya permintaan para investor asing. Tren ini terjadi di sebagian besar bursa saham Asia pada bulan Mei antara lain, pasar saham di India, Indonesia, Filipina, Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam.
Adapun India dengan pergerakan di bursa Sensexnya yang mengalami pergerakan reli berhasil mendekati kenaikan 10 persen tertinggi di bulan ini. Sementara bursa saham Indonesia naik sekitar 2,7 persen.
Rajiv Biswas, Kepala Ekonom Asia Pasifik di IHS Global Insight menjelaskan ada tiga faktor yang mendasari dapat terjadinya perbaikan. Hal itu seperti proses rebalancing portofolio jauh dari EM dan ke DMS telah selesai.
Investor mengharapkan perekonomian di AS dan Eropa semakin kuat demi pertumbuhan untuk meningkatkan momentum ekspor untuk EM. Selain itu juga karena investor lebih baik dalam membedakan mana yang lebih kuat atau lebih lemah antara negara-negara di kawasan tersebut.
Akan tetapi, Biswas mengatakan bahwa ada faktor-faktor khusus yang turut mendukung beberapa pasar negara berkembang. Kondisi ini mengarah terjadinya rebound pada pasar saham negara tersebut. Di India, misalnya terdapat sentimen positif terkait dengan hasil pemilu baru-baru ini telah menarik investor asing.
Capital Exonomic juga menilai dari sisi aset pasar di EM akan mengalami tekanan. Bahkan harga asetnya berpotensi menyamai harga di negara maju. Tetapi mereka tidak ingin terjadi perbedaan yang mencolok di antara EM.
"Pasar modal EM mengalami tekanan termasuk karena kurang akomodatifnya kebijakan moneter dari AS. Pertumbuhan struktgural yang lebih lambat di BRICs (Brazil, Rusia, India dan China, harga komoditas yang melemah dan ketidakstabilan politik di sejumlah tempat," lanjut Hinggins.
Pertumbuhan ekonomi di BRICSs bersamaan dengan kebijakan Fed memicu kejenuhan di kalangan investor asing. Hal ini akan memperlambat arus modal asing.