korea by dewanti

Monday, October 28, 2013

Spekulasi The Fed Merebak, Rupiah Terangkat

INILAH.COM, Jakarta - Kembali merebaknya spekulasi The Fed akan kembali mempertahankan stimulusnya sukses mendongkrak nilai tukar rupiah sepekan terakhir.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia, dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah menguat 166 poin (1,46%) ke posisi 11.142 per dolar AS pada 25 Oktober 2013 dari akhir pekan sebelumnya, 11.308 pada 18 Oktober 2013.
Padahal, kata Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities, laju nilai tukar rupiah di awal pekan ini bergerak di zona merah. "Pelemahan terjadi seiring dengan pelemahan nilai tukar yen Jepang setelah rilis nilai ekspornya yang bertumbuh di bawah estimasi dan masih defisitnya neraca perdagangan Jepang," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (27/10/2013).
Selain itu, lanjut Reza, laju rupiah juga terimbas pelemahan rupee India setelah beredar spekulasi pemerintah India akan kembali meningkatkan suku bunganya. "Padahl, laju pertumbuhannya mendekati level terendahnya," ujar dia.
Dengan pelemahan tersebut, menurut Reza, laju dolar AS memanfaatkannya untuk menguat. "Pascapelemahan, rupiah kembali terapresiasi," ucapnya.
Apresiasi itu terjadi di tengah ekspektasi data-data AS yang akan dirilis setelah sempat tertunda. Sebab, terjadinya shutdown akan membuat ekonomi AS kurang baik sehingga menimbulkan penilaian akan bertahannya kebijakan The Fed untuk tetap mengucurkan program stimulusnya.
Bahkan, lanjut dia, rilis pertumbuhan nonfarm payrolls AS yang di bawah estimasi memberikan petunjuk adanya perlambatan dan penurunan unemployment rate AS yang dirasa kurang signifikan. "Jelang akhir pekan, laju nilai tukar rupiah kembali terkoreksi meski tipis seiring pelemahan sejumlah mata uang Asia pascarespons negatif sentimen dari China," tuturnya.
Respons negatif tersebut terjadi setelah bank sentral China menolak melakukan injeksi pendanaan kepada sistem keuangannya. "Pelemahan juga terimbas penurunan nilai tukar euro setelah rilis beberapa indeks manufaktur di sejumlah wilayah zona Euro yang tumbuh melambat," papar dia.
Namun demikian, kata dia, laju rupiah di akhir pekan kembali ke zona positif seiring kembali merebaknya spekulasi The Fed akan kembali mempertahankan stimulusnya. "Spekulasi menguat pascarilis penurunan markit manufacturing PMI AS dan rilis data-data ketenegakerjaan yang variatif," imbuhnya.

Medco Raih Pendapatan Sebesar US$652,2 Juta

INILAH.COM, Jakarta - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) meraih penjualan sebesar US$652,2 juta pada kuartal ketiga 2013.
Kinerja Migas E&P menyetor 94% dari total penjualan, atau sebesar US$615,2 juta. Penjualan ini berdasarkan penjualan volum minyak dan gas bumi sebesar 14,7 juta barel setara minyak selama periode 1 Januari hingga 30 September 2013. Demikian mengutip keterangan resmi perseroan Jumat (25/10/2013).
Untuk harga rata-rata minyak bumi sebesar US$108,5 per barel dan harga gas rata-rata pada US$5,32 per MMBTU (juta BTU). Harga minyak bumi ini turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2012, yaitu sekitar US$ 117,7 per barel. Sedangkan harga rata-rata gas naik 36% dari US$3,92 per MMBTU pada tahun 2012.
Pada periode ini, Perseroan mencatat laba kotor sebesar US$277,5 juta dan pendapatan operasi sebesar US$179 juta. Perseroan berhasil menurunkan biaya operasi sebesar 3% dari US$101,3 juta di di kuartal ketiga 2012 menjadi US$98,3 juta periode yang sama 2013.
Perseroan juga mencatat pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$249 juta. Perseroan membukukan laba sebesar US$30 juta.
Selama kuartal ketiga 2013, pPerseroan berusaha melunasi pinjaman, terutama yang berbunga tinggi sehingga biaya bunga berhasil dikurangi hampir 20% dari US$68 juta di tahun 2012 menjadi US$54,6 juta.

Stimulus Fed & Kinerja Emiten Dongkrak IHSG

INILAH.COM, Jakarta – Dalam sepekan terakhir, IHSG menguat 0,75% seiring ekspektasi dipertahankannya stimulus The Fed dan kinerja emiten domestik yang sesuai ekspektasi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepakan terakhir mengalami kenaikan 0,75% atau 34,27 poin dari pekan sebelumnya menjadi 4.580,84. Posisi tertinggi, sempat berada di level 4.609,11 dan terendah 4.499,69.
Kepala Riset PT Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, terlihat IHSG sedang mempertahankan tren kenaikan jangka pendek dan menengahnya. Akan tetapi, laju IHSG dalam dua pekan terakhir hanya mengalami kenaikan tipis kurang dari sekitar 1%.
Menurut Reza, variatifnya sentimen yang ada dan mulai adanya tekanan-tekanan aksi ambil untung menimbulkan hambatan bagi IHSG untuk naik.
"Jika aksi ini terus berlanjut di pekan depan maka tren kenaikan yang sedang dipertahankan tersebut akan terganggu dan bisa merubah arah jika level bawah dari tren tersebut tidak mampu ditahan," kata Reza kepada INILAH.COM, di Jakarta, Minggu (27/10/2013).
Banyak beredarnya pemberitaan bahwa The Fed akan mempertahankan program stimulusnya untuk menopang pertumbuhan ekonomi AS hingga awal tahun depan, di nilai Reza, memberikan sentimen positif dan dimanfaatkan pemodal saham untuk bertahan di pasar.
Padahal saat itu, asing masih tercatat net sell dan nilai tukar rupiah kembali melemah.
"Setelah sempat terpeleset, laju IHSG kembali bergerak naik didukung dengan terapresiasinya nilai tukar rupiah dan kembalinya asing melakukan net buy," ujar Reza.
Di sisi lain, kata Reza, adanya rilis kinerja beberapa emiten properti dan perbankan yang dinilai sesuai dengan ekspektasi memberikan sentimen positif tersendiri meskipun rilis dari beberapa emiten global beberapa hari terakhir berada di bawah estimasi.