korea by dewanti

Tuesday, November 12, 2013

Unilever akan Bagikan Dividen Rp330 per Saham

INILAH.COM, Jakarta - PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) akan membagikan dividen interim sebesar Rp2,517 triliun dari tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2013.
Hasil keputusan dividen interim bedasarkan keputusan rapat direksi 6 November 2012. Dividen tersebut sebesar sebesar Rp330 per saham kepada 7,63 miliar pemegang saham. Demikian mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (11/11/2013).
Berikut rincian jadwal pelaksanaan dividen interin, cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 2 Desember 2013, ex dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi pada 3 Desember 2013, cum dividen di pasar tunai pada 5 Desember 2013, ex dividen di pasar tunai pada 6 Desember 2013, recording date pada 5 Desember 2013, pelaksanaan pembayaran dividen interim pada 12 Desember 2013.

BI Rate Ditahan, Rupiah Masih Tertekan

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (12/11/2013) diprediksi melemah. Padahal, BI diprediksi tak mengubah BI rate.
Ariston Tjendra, kepala riset Monex Investindo Futures mengatakan, sebelum pemerintahan AS mengalami shutdown, nilai tukar rupiah sempat mencapai level terlemahnya 11.660 yang terjadi pada 30 September 2013. Artinya, kata dia, rupiah masih punya ruang 100 poin untuk mencapai level terlemahnya itu.
Karena itu, Selasa ini rupiah punya peluang untuk melemah ke area 11.600 per dolar AS seiring semakin besarnya sentimen tapering The Fed. "Karena itu, rupiah Selasa ini cenderung melemah dalam kisaran 11.470 hingga 11.660 per dolar AS," katanya kepada INILAH.COM.
Menurut Ariston, jika pelemahan rupiah melampaui 11.660 per dolar AS, BI bisa kembali bergerak dengan menaikan suku bunga acuan (BI rate) dari level saat ini 7,25%. "Tapi, untuk Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia Selasa ini, kemungkinan BI akan mempertahankan suku bunga di level tersebut," ujarnya.
Untuk menaikan, lanjut Ariston, BI harus wait and see terlebih dahulu atas kondisi makro ekonomi Indonesia. "Kemungkinan BI tidak akan tergesa-gesa menaikan suku bunga," timpal dia.
Di Eropa, lanjutnya, European Central Bank (ECB) memang menurunkan suku bunga acuannya 25 basis poin ke level 0,25%. "Sebab, memang perkembangan inflasi di Eropa yang mengalami penurunan," ucapnya.
ECB, kata dia, khawatir terjadi deflasi seperti yang terjadi di Jepang sehingga menyuntikkan stimulus ke pasar dengan memangkas suku bunga. "Kondisi Indonesia justru sebaliknya, mengalami kenaikan inflasi," papar dia.
Seharusnya, BI rate kembali dinaikkan tapi mungkin bukan pada RDG Selasa ini. Jika memang diperlukan, BI akan kembali mengagendakan rapat darurat seiring tingginya volatilitas rupiah. "Bukan hanya pelemahannya, volatilitas rupiah tinggi sehingga mencemaskan pasar," imbuh Ariston.
Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS  di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (11/11/2013) ditutup melemah 145 poin (1,27%) ke posisi 11.550/11.565.

Tapering The Fed (Masih) Benamkan Rupiah

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (11/11/2013) ditutup melemah 145 poin (1,27%) ke posisi 11.550/11.565 dari posisi akhir pekan lalu 11.405/11.415.
Ariston Tjendra, kepala riset Monex Investindo Futures mengatakan, pelemahan rupiah awal pekan ini masih dipicu oleh ekspektasi pasar atas peluang tapering The Fed tahap pertama pada Desember 2013. Sebab, data-data yang dirilis di AS menunjukkan angka yang positif.
Salah satunya adalah data Non Farm Payrolls AS yang dirilis di angka 204 ribu lapangan kerja dibandingkan ekspektasi 121 ribu. Data ini juga lebih bagus dari data bulan sebelumnya 163 ribu.
"Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 11.560 setelah mencapai level terkuatnya 11.420 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu terhadap dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (11/11/2013).
Menurut dia, hanya faktor tapering yang berpengaruh di pasar saat ini. "Meskipun, jika berkaca pada Federal Open Market Committee (FOMC) sebelumnya, bisa saja pada Desember pun terjadi di luar ekspektasi pasar," ujarnya.
Pasalnya, kata dia, The Fed punya pertimbangan tersendiri. Pasar hanya bisa menerka-nerka berdasarkan statemen The Fed sendiri. "The Fed akan melakukan perubahan kebijakan jika data tenaga kerja dan inflasi mencapai angka yang ditargetkan," tuturnya.
Ariston menjelaskan, tingkat pengangguran AS memang masih belum mengalami perubahan di level 7,3%. Sementara itu, target The Fed sendiri adalah 6,5%. "Tapi, target ini untuk menaikkan suku bunga bukan untuk pencabutan stimulus," timpal dia.
Untuk tapering, kata dia, The Fed tidak perlu menunggu tingkat pengangguran turun ke 6,5%. "Jika tingkat pengangguran AS mengalami sedikit penurunan, The Fed kemungkinan akan mulai memangkas (tapering) stimulus," ucapnya.
Hanya saja, dia menggarisbawahi, bukan berarti stimulus menjadi nol (0). Sekarang di level US$85 miliar per bulan, mungkin akan dikurangi menjadi US$60 miliar per bulan. "Bisa juga dikurangi US$10 miliar menjadi US$75 miliar," ungkap dia.
Alhasil, rupiah melemah meski dolar AS mengalami technical correction terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa).
Indeks dolar AS melemah ke 81,195 dari sebelumnya 81,206. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3384 dari sebelumnya US$1,3370 per euro," imbuh Ariston.