korea by dewanti

Monday, January 20, 2014

META Simpan Sisa Dana Right Issue Rp10,32 M

INILAH.COM, Jakarta - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) hingga akhir Desember 2013 masih memiliki dana hasil right issue sebesar Rp10,32 miliar.
Sisa dana tersebut disimpan perseroan dalam bentuk deposito di Bank Victoria sebesar Rp10 miliar dan sisanya Rp324 juta dalam curren account bank Panin. Demikian mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (20/1/2014).
Adapun dana berhasil diraih perseroan dalam aksi right issue pada 2010 lalu sebesar Rp744,63 miliar. Dengan demikian, perseroan sudah merealisasikan dana right issue sebesar Rp734,30 miliar atau 98,61%.
Rincian penggunaan dana right issue, sekitar 39,03% untuk pengembangan usaha di bidang infrastruktur, 33,36% untuk akuisisi saham PT Margautama Nusantara, 13,62% untuk mempercepat pembayaran utang ke PT Bintaro Serpong Damai, 11,25% untuk modal kerja, dan sisanya 2,74% untuk traksaksi dan pembayaran utang.

Data China Perlemah Rupiah

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Senin (20/1/2014) ditutup melemah 35 poin (0,28%) ke posisi 12.115/12.125 dari posisi akhir pekan lalu 12.085/12.095.
Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, pelemahan rupiah awal pekan ini seiring data Produk Domestik Bruto (PDB) China yang dirilis tadi pagi tidak begitu positif. Meskipun angkanya lebih tinggi dibandingkan prediksi pasar.
Kondisi itu, kata dia, membuat pasar khawatir dengan outlook ekspor Indonesia ke China. "Karena itu, rupiah ditutup di level terlemahnya 12.115 dari level terkuatnya 12.090 dari posisi pembukaan di level terkuatnya itu terhadap dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (20/1/2014).
Memang data PDB China, lanjut Firman, di atas prediksi 7,6% menjadi 7,7% tapi lebih rendah dari publikasi sebelumnya 7,8%. "Apalagi, selain PDB, data China lain yang dirilis pada saat yang bersamaan juga kurang positif," ujarnya.
Antara lain, output industri China melambat menjadi 9,7% dari prediksi 9,8% dan publikasi sebelumnya 10%. Begitu juga dengan penjualan ritel yang melandai sesuai prediksi ke level 13,6% dari sebelumnya 13,7%.
Nasib serupa terjadi pada laju investasi daerah perkotaan yang melambat ke 19,6% dari prediksi 19,8% dan publikasi sebelumnya 19,9%. "Ini menujukkan, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I-2014 akan melaju lebih lambat," ungkap dia.
Kondisi itu, Firman menegaskan, diperparah oleh kembali mengetatnya kondisi likuiditas di China. "Jadi, sentimen yang menekan rupiah awal pekan ini lebih pada faktor China," tuturnya.
Semua itu, diekspektasikan pasar, akan memicu melambatnya laju ekspor Indonesia ke China. "Jika data China tidak setinggi prediksi atau lebih lambat dibandingkan publikasi sebelumnya, ekspor Indonesia pun akan seperti itu ke China," papar dia.
Alhasil, rupiah melemah meski dolar AS juga melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa).
Indeks dolar AS melemah tipis ke 81,105 dari sebelumnya 81,18. "Terhadap euro, dolar AS ditransaksikan melemah ke US$1,3535 dari sebelumnya US$1,3539 per euro," imbuh Firman.

Menakar Sisi Positif Negatif Rencana Akuisisi PGN Oleh Pertamina

Jakarta -Rencana pemerintah mendorong akuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS/PGN) oleh PT Pertamina (Persero) punya sisi positif dan negatif. Yuk kita simak.
Analis Saham First Asia Capital David Nathanael Sutyanto menilai, rencana akuisisi PGN oleh Pertamina tersebut akan berdampak pada beberapa hal. Menurut David, rencana ini memberi dampak kekhawatiran kepada para pemegang saham khususnya publik jika saham mereka dimungkinkan akan terdilusi dengan akuisisi ini.
"Kemarin satu-satunya masalah karena sebagian besar dengan akuisisi ini saham publik PGAS akan terdilusi. Publik tidak suka dengan ini karena merasa kepemilikannya akan berkurang atau turun," kata David kepada detikFinance di Jakarta, Senin (20/1/2014).
Selain itu, David mengatakan, Pertamina dimungkinkan banyak punya kendali terhadap kegiatan usaha maupun aksi korporasi perseroan.
"Pertamina banyak nanggung subsidi. Ini berpengaruh juga. Selain itu, PGAS rajin setor dividen, kalau nanti diakuisisi Pertamina, dia yang ngatur pembagian dividen," ujar dia.
Namun, dampak positifnya adalah dengan akuisisi ini dimungkinkan pasokan gas perseroan akan lebih terkendali mengingat Pertamina merupakan perusahaan yang punya tambang gas. Hal ini menjadi penopang pasokan gas perseroan ke depan.
"Sisi positif pasokan gas terjamin karena Pertamina punya tambang gas. Memungkinkan PGAS bisa ekspansi," jelas dia.
Di samping itu, David menilai akuisisi ini justru menjadi 'batu loncatan' Pertamina untuk bisa menjadi perusahaan bergengsi di dunia. Apalagi, market cap PGAS saat ini masuk posisi ke-8 terbesar di Indonesia.
"Dengan masuknya Pertamina, ada kendali dari Pertamina. Ini strategi Pertamina untuk bisa jadi perusahaan kelas dunia melalui ekspansi anorganik yaitu akuisisi," pungkasnya.
Seperti diketahui, kabar mengenai aksi korporasi dua perusahaan pelat merah ini sudah lama beredar. Masalah utamanya adalah bisnis gas yang dilakukan oleh BUMN.
Pemerintah ingin ada perusahaan negara yang bisa fokus mengurus gas demi kepentingan masyarakat luas. Akhirnya muncul opsi PGN diakuisisi Pertamina, tapi muncul juga opsi PGN mengakuisisi anak usaha Pertamina yang mengurus gas, PT Pertamina Gas (Pertagas).
Sampai akhirnya Menteri BUMN Dahlan Iskan menegaskan bahwa Pertamina lah yang akan mencaplok PGN. Namun saat ini sedang dikaji dua opsi untuk akuisisi tersebut, sedang dipelajari oleh Danareksa dan Bahana.
Opsi pertama adalah PGN mengakuisisi Pertagas, selanjutnya PGN diakuisisi Pertamina. Opsi kedua, Pertamina langsung akuisisi PGN. (detik.com)