korea by dewanti

Wednesday, April 2, 2014

Gubernur BI: Anggaran Subsidi BBM Masih Jadi Masalah

Jakarta -Bank Indonesia (BI) masih menyoroti anggaran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih tinggi tahun ini. Tercatat pada APBN 2014, anggaran subsidi BBM mencapai Rp 211 triliun dari total anggaran Rp 1.800 triliun.
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, harus ada kebijakan yang dapat mengarahkan subsidi BBM menjadi lebih efisien. Apakah itu dari sisi harga atau menahan laju konsumsi.
"Anggaran subsidi BBM dan energi masih menjadi masalah yang harus dicarikan solusinya dari tahun sebelumnya hingga sekarang," ungkap Agus dalam peluncuran buku laporan perekonomian Indonesia tahun 2013 di kantor BI, Jakarta, Rabu (2/4/2014)
Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyatakan, masalah subsidi BBM adalah pekerjaan rumah bagi pemerintah. Karena tidak bisa melalui BI yang hanya bisa kebluarkan kebijakan moneter.
Tak hanya soal subsidi BBM, perintah juga harus bisa meningkatkan penggunaan energi alternatif. Tujuannya, agar impor BBM yang cukup tinggi bisa ditekan. Karena selama ini, impor BBM memperburuk defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).
"Siapapun pemerintahan baru kalau tidak selesaikan energi kita akan alami kesulitan. Impor BBM makin besar. Harga batubara nggak naik-naik. Jadi CAD itu sulit untuk cepat baik," kata Mirza.
Memang menurut Mirza sudah ada perbaikan reformasi struktural dari sektor energi dari pemerintah, tapi itu harus bekerlanjutan. Bila tidak diselesaikan dengan pemerintahan sekarang, maka harus menjadi tuhas pemerintahan selanjutnya.
"Kalau tidak segera reformasi energi, energi impor makin besar, susah mengatasi kalau tidak reformasi," terangnya. (detik.com)

Profit Taking Bikin IHSG Menipis 3 Poin

 
 
Jakarta -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menipis 3 poin setelah terkena aksi ambil untung. Penguatan indeks di awal perdagangan langsung hilang gara-gara profit taking.
Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat di posisi Rp 11.295 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 11.300 per dolar AS.
Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG naik tipis 4,406 poin (0,09%) ke level 4.878,340 berkat maraknya sentimen positif yang beredar di pasar global dan regional. Investor makin semangat berburu saham.
Indeks sempat menanjak hingga ke posisi tertingginya di 4.902,015 sebelum akhirnya melambat gara-gara aksi ambil untung. Indeks pun sempat jatuh ke zona merah dan bergerak stagnan.
Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG menguat tipis 4,098 poin (0,08%) ke level 4.878,032. IHSG (IHSG) sempat sentuh level 4.900 sebelum akhirnya melambat gara-gara aksi ambil untung. Indeks hanya naik tipis 4 poin hingga siang hari ini.
Saham-saham unggulan yang sempat memimpin penguatan langsung jatuh ke zona merah kena profit taking. Indeks sempat meluncur ke titik terendahnya hari ini di 4.857,682.
Menutup perdagangan, Rabu (2/4/2014), IHSG menipis 3,729 poin (0,08%) ke level 4.870,205. Sementara Indeks LQ45 turun tipis 0,148 poin (0,02%) ke level 824,022.
Aksi beli asing kembali berlanjut meski nilainya tidak sebesar kemarin. Investor asing makin percaya kepada ekonomi Indonesia setelah rilis data-data yang positif oleh Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin.
Sayangnya, aksi jual investor domestik lebih mendominasi sehingga indeks berakhir di zona merah. Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 956,07 miliar di seluruh pasar.
Perdagangan hari ini berjalan ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 259.102 kali pada volume 6,844 miliar lembar saham senilai Rp 6,9 triliun. Sebanyak 132 saham naik, 164 saham turun, dan 84 saham stagnan.
Sentimen positif dari Wall Street dan Pidato Gubernur The Fed Janet Yellen atas ekonomi AS membuat pelaku pasar Asia berani berburu saham. Hanya bursa saham Singapura yang melemah bersama Indonesia.
 
Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa di Asia sore ini:
  • Indeks Komposit Shanghai menguat 11,53 poin 0,56%) ke level 2.058,99.
  • Indeks Hang Seng naik 75,40 poin (0,34%) ke level 22.523,94.
  • Indeks Nikkei 225 melonjak 154,33 poin (1,04%) ke level 14.946,32.
  • Indeks Straits Times melemah 3,97 poin 0,12%) ke level 3.194,55.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Metropolitan Kentjana (MKPI) naik Rp 600 ke Rp 15.500, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 575 ke Rp 51.475, Bank of India (BSWD) naik Rp 470 ke Rp 2.500, dan Mandom (TCID) naik Rp 400 ke Rp 13.900.
Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 375 ke Rp 6.100, Astra Agro (AALI) turun Rp 375 ke Rp 25.800, Surya Toto (TOTO) turun Rp 300 ke Rp 7.400, dan Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 175 ke Rp 7.825. (detik.com)

Ini Sebab Rupiah Jatuh di Akhir Tahun 2013 Kemarin

Jakarta -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan tahun 2013 melemah cukup drastis. Ini sebenarnya berawal oleh ketergantungan dari pembiayaan atau utang asing yang terlalu besar.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mencatat sekitar 30% surat utang negara (SUN) atau Rp 350 triliun dimiliki oleh asing. Sehingga wajar, ketika ada gejolak global dan uang itu kembali ke negaranya, membuat nilai tukar melemah.
"Negara ini ketergantungan financing luar besar sekali. Sekitar 30% sampai dengan 33% SUN dibeli asing atau Rp 340 triliun sampai dengan Rp 350 triliun surat dipegang asing. Artinya defisit fiskal dibiayai asing," ujarnya dalam diskusi dari leporan perekonomian Indonesia 2013 di kantor BI, Jakarta, Rabu (2/4/2014)
Tidak hanya itu, karena menurut Mirza dari sektor swasta juga menyumbang atas kondisi pertengahan tahun 2013 lalu. Banyak emiten besar di dalam negeri yang banyak berutang dalam bentuk valuta asing.
"Emiten kalau rights issue siapa yang beli. Paling besar foreign investment. Mau sebut siapa, Astra, terus siapa lagi. Itu banyak perusahaan yang pembiayaannya dari asing," sebutnya.
Sehingga, kala Bank Sentral AS The Fed berniat akan menarik stimulus, maka ekonomi dalam negeri akan tertekan. Aliran dana tersebut mengalir deras keluar dan menyebabkan pelemahan nilai tukar.
"Jadi mau tidak mau kita harus ikut rumus-rumusnya itu.‬ Wajar saja kalau kita ngikut dengan apa yang dilakukan oleh AS," ujarnya.
Bila permasalahan dikaitkan dengan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), menurut Mirza itu bisa ditutupi. Sebab, negara seperti AS memiliki CAD sampai dengan 9% atau dua kali lipat dari kondisi CAD Indonesia yang pada triwulan II/2013 sebesar 4,4%.
"Walau memang AS itu pernah CAD nya sampai dengan 9%. Tapi tidak apa-apa. Karena kalau AS itu dia bisa nyetak dolar. Kalau kita kan nggak. Kita cuma pakai saja," imbuhnya. (detik.com)