korea by dewanti

Tuesday, November 12, 2013

'Dihajar' BI Rate, IHSG Tumbang 61 Poin

Jakarta -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 61 poin menyusul maraknya aksi jual setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan tingkat suku bunga acuan ke level 7,5%. Naiknya BI Rate ini di luar prediksi pasar.
Sementara nilai tukar rupiah dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 11.400 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 11.405 per dolar AS.
Mengawali perdagangan pagi tadi, IHSG dibuka bertambah 7,208 poin (0,16%) ke level 4.448,932 mengikuti arus positif bursa-bursa di Asia. Pelaku pasar masih menahan diri sambil menunggu pengumuman BI Rate.
Seluruh indeks sektoral di lantai bursa sempat berhasil menguat. Namun adanya aksi jual asing membuat hampir seluruh indeks sektoral jadi negatif.
Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG berkurang 19,913 poin (0,45%) ke level 4.421,811 menyusul aksi lepas saham yang dilakukan investor asing. Padahal pagi tadi indeks sempat menguat berkat aksi beli investor domestik.
Indeks hanya menguat di awal perdagangan saja. Setelah naik hingga ke level 4.455,161 indeks langsung jatuh ke zona merah. Aksi jual banyak dilakukan investor asing.
Mengakhiri perdagangan, Selasa (12/11/2013), IHSG ditutup anjlok 61,084 poin (1,38%) ke level 4.380,640. Sementara Indeks LQ45 ditutup jatuh 11,994 poin (1,61%) ke level 731,155.
Rapat BI sepakat menaikkan BI Rate sebesar 25 bps dari 7,25% menjadi 7,50%. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2009.
"Mempertimbangkan masih besarnya defisit transaksi berjalan di tengah risiko ketidakpastian global yang masih tinggi. Dengan demikian, keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa defisit transaksi bejalan menurun ke tingkat yang lebih sehat dan inflasi tetap terkendali," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Johansyah seperti dikutip dalam siaran pers.
Aksi jual dilakukan investor domestik dan asing. Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 479,11 miliar di seluruh pasar.
Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 156.435 kali pada volume 4,541 miliar lembar saham senilai Rp 5,171 triliun. Sebanyak 66 saham naik, sisanya 195 saham turun, dan 92 saham stagnan.
Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan hari ini dengan mixed. Bursa Indonesia jatuh paling dalam sedangkan Jepang naik sangat tinggi hingga lebih dari dua persen.
 
Berikut situasi dan kondisi bursa-bursa regional hingga sore hari ini:
  • Indeks Komposit Shanghai naik 17,30 poin (0,82%) ke level 2.126,77. 
  • Indeks Hang Seng turun 168,44 poin (0,73%) ke level 22.901,41. 
  • Indeks Nikkei 225 meroket 318,84 poin (2,23%) ke level 14.588,68. 
  • Indeks Straits Times menipis 3,35 poin (0,11%) ke level 3.183,37. 
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Merck (MERK) naik Rp 1.500 ke Rp 177.000, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.450 ke Rp 32.000, SMART (SMAR) naik Rp 350 ke Rp 6.700, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 350 ke Rp 20.900.
Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indocement (INTP) turun Rp 650 ke Rp 19.400, Lippo Cikarang (LPKR) turun Rp 450 ke Rp 5.250, Siantar TOP (STTP) turun Rp 350 ke Rp 1.600, dan Indofood CBP (ICBP) turun Rp 350 ke Rp 10.300. (detik.com)

Alasan di Balik Naiknya BI Rate Jadi 7,5%

Jakarta -Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan kembali suku bunga acuannya 25 bps menjadi 7,5%. Apa alasan di balik kebijakan tersebut?
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Johansyah memaparkan kebijakan tersebut ditempuh dengan mempertimbangkan masih besarnya defisit transaksi berjalan.
"Mempertimbangkan masih besarnya defisit transaksi berjalan di tengah risiko ketidakpastian global yang masih tinggi. Dengan demikian, keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa defisit transaksi bejalan menurun ke tingkat yang lebih sehat dan inflasi tetap terkendali," katanya seperti dikutip dalam siaran pers, Selasa (12/11/2013).
Difi menambahkan, BI mencermati sejumlah risiko dalam perekonomian global dan nasional juga. Perkembangan ekonomi global pada Oktober 2013 cenderung membaik, namun masih dibayangi risiko ketidakpastian yang tinggi.
"Bank Indonesia mencermati perkembangan ekonomi global masih diliputi oleh ketidakpastian. Pola pertumbuhan ekonomi dunia cenderung bergeser dengan melambatnya ekonomi negara berkembang dan menguatnya ekonomi negara maju," tuturnya.
Selain itu, siklus harga komoditas dunia yang tinggi diperkirakan akan berakhir sehingga dapat menghambat upaya pemulihan ekonomi nasional. Kedua kecenderungan ini akan berpengaruh terhadap kinerja eksternal ekonomi Indonesia.
Menelusuri defisit transaksi berjalan, terlihat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III-2103 memang masih mengalami tekanan defisit.
BI mengungkapkan defisit neraca transaksi berjalan diperkirakan menurun menjadi US$ 8,4 miliar pada triwulan III-2013 dibandingkan dengan hampir US$ 10,0 miliar pada triwulan sebelumnya.
"Perbaikan terutama tercatat pada surplus neraca perdagangan komoditas non-migas (fob) dengan menurunnya impor non-migas sejalan dengan melambatnya permintaan dalam negeri. Namun demikian, defisit pada neraca perdagangan migas meningkat dengan menurunnya produksi dalam negeri dan masih tingginya impor migas untuk konsumsi dalam negeri," papar Difi.
Sementara surplus pada Neraca Transaksi Modal dan Finansial berkurang sebagai dampak dari aliran masuk investasi portfolio asing yang menurun akibat ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Sementara itu, Penanaman Modal Asing Langsung (Foreign Direct Investment) tercatat meningkat. (detik.com)

Defisit Transaksi Berjalan Triwulan III Capai US$8,4 Miliar

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia memproyeksi defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan III/2013 sebesar US$8,4 miliar atau sekitar 3,7—3,8% dibandingkan dengan produk domestik bruto.
Difi A. Johansyah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), mengatakan defisit neraca transaksi berjalan tersebut menyempit dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai hampir US$10 miliar atau 4,4% dari PDB.
"Perbaikan terutama tercatat pada surplus neraca perdagangan komoditas nonmigas dengan menurunnya impor nonmigas sejalan dengan melambatnya permintaan dalam negeri," ujarnya Selasa (12/11/2013).
Selain itu, defisit  neraca jasa dan pendapatan juga mengecil. Namun demikian, defisit neraca perdagangan migas meningkat dengan menurunnya produksi dalam negeri dan masih tingginya impor untuk konsumsi dalam negeri.
Sementara itu surplus neraca transaksi modal dan finansial berkurang sebagai dampak dari aliran masuk investasi portofolio asing yang menurun akibat ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
"Namun penanaman modal asing langsung [foreign direct investment tercatat meningkat," ujarnya.