korea by dewanti

Tuesday, June 24, 2014

Presiden Pilihan Pasar Modal dan Tantangannya

INILAHCOM, Jakarta - Tinggal 15 hari lagi, pemilihan Presiden RI yang baru akan berlangsung. Siapapun pemenangnya akan menentukan pergerakan pasar saham Indonesia ke depannya.
Tak bisa dipungkiri, kata kunci dari pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) saat ini adalah pilpres 2014. Jika mengacu dari berbagai survei yang ada, bisa dikatakan kedua pasangan Capres-Cawapres memiliki kekuatan berimbang dengan kans menang sama besarnya.
Pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang sebelumnya berada di atas angin, sekarang giliran pasangan Prabowo-Hatta yang mampu menyusul bahkan belakangan dinilai unggul tipis atas pasangan nomor urut 2 tersebut. Para pelaku pasar pun, masih bersikap wait and see atas pilpres 9 Juli mendatang.
"Masa kampanye pilpres 2014 beberapa bulan terakhir, telah menimbulkan ketidakpastian politik. Pemenangnya nanti yang pasti akan memimpin Indonesia untuk terus menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia Tenggara selama 5 tahun ke depan," ujar Euben Paracuelles, Ekonom Asia Tenggara di Nomura. Demikian mengutip dari cnbc.com.
Selain itu, para analis berpendapat, presiden baru terpilih akan membentuk prospek ekonomi Indonesia dan investasi asing menjadi lebih baik dibandingkan masa pemerintahan yang lama.
Wellen Wiranto, Ekonom di OCBC Bank mengungkapkan, pasar sebelumnya mendukung penuh terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden 2014. "Awalnya Jokowi menjadi pusat perhatian pasar. Namun, kondisi sekarang mulai berubah. Kita sedang di kondisi ketidakyakinan kalau Jokowi akan jadi Presiden. Sebaliknya, pasar menilai Prabowo akan mampu meraih kemenangan tipis pada pilpres 2014 nanti," jelas Wellen.
Pada kesempatan yang sama, para pengamat mengungkapkan, Prabowo memiliki agenda yang lebih nasionalis dibandingkan Jokowi. Meskipun demikian, terlepas dari siapa yang akhirnya memenangkan pilpres bulan depan, kedua pasangan tersebut memiliki tantangan yang sama beratnya untuk ekonomi Indonesia.
"Defisit fiskal, misalnya, telah melebar dan nyaris menyentuh 3% dari PDB (produk domestik bruto) batas konstitusional," jelas Chua Hak Bin, Ekonom Bank of America, Merrill Asean Lynch.
Sementara larangan ekspor bijih mineral, ekspor batu bara dan minyak sawit lebih rendah dari perkiraan dan produksi minyak anjlok. Kondisi tersebut, bisa memperburuk defisit anggaran dan transaksi berjalan di Indonesia.
Sedangkan, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, melemah ke level terendah di 4.842,13. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 4,6% dibandingkan bulan Mei.