korea by dewanti

Monday, June 9, 2014

IHSG & 3P (Piala Dunia, Puasa dan Pilpres)

INILAHCOM, Jakarta – Penurunan volume transaksi saham setiap diselenggarakannya Piala Dunia yang kali ini berbarengan dengan Pilpres dan puasa dinilai sebagai mitos belaka. Kesebelasan saham pun disodorkan.
David Cornelis, kepala riset KSK Financial Group mengatakan, fenomena momen empat tahunan cenderung hanya mitos. Fenomena yang disebut anomali pasar memasuki bulan Juni tahun 2014 ini adalah efek Piala Dunia. Piala Dunia berpengaruh pada melemahnya momentum perdagangan saham dan ekspektasi imbal hasil yang negatif pada IHSG.
Kompetisi olahraga dunia ini, lanjut David, menjadi ajang yang membutuhkan biaya paling mahal. Sekitar US$16 miliar digelontorkan oleh pemerintah Brasil dan FIFA untuk menggelarnya. "Angka 20x lipat lebih besar dari total anggaran Pilpres Indonesia tahun 2014 dengan derby Prabowo-Jokowi," katanya kepada INILAHCOM, di Jakarta, Minggu (8/6/2014).
Secara psikologis memang ada hubungan antara hasil pertandingan sepakbola dan perilaku investor di bursa saham. Faktor turunnya produktivitas karena menonton siaran tengah malam jelang dini hari dan faktor spekulasi skor pertandingan bola hasilnya berkorelasi negatif, namun tidak bernas terhadap pergerakan IHSG, baik harga maupun volume.
Selama histeria Piala Dunia, kumulatif imbal hasil IHSG justru positif. Jika dibandingkan dengan bulan-bulan setelahnya, volumenya pun terkoreksi tidak terlalu signifikan, hanya sekitar 10%. Perlu diketahui bahwa dana yang ada di bursa saham tentu berbeda dengan uang yang dipakai untuk hobi di pasar bola internasional.
Secara historis, dinamika IHSG adalah volatilitas saham yang cenderung melemah. Kondisi ini menjadi oportuniti bagi investor untuk memanfaatkan momen tipisnya transaksi dan momentum fluktuasi yang minimalis.
Momen tersebut disertai ekspektasi keuntungan selama 1 bulan mendatang yang positif dengan risiko volatilitas yang lebih rendah. Ini terjadi di tengah momen kenaikan IHSG yang sudah berturut-turut positif, dobel hattrick selama 6 bulan terakhir.
Tahun ini, Selecao diprediksi menang di final melawan Albiceleste. Brazil, sebagai negara dengan perekononomian terbesar ketujuh di dunia, diunggulkan untuk mengulangi kesuksesan Perancis di tahun 1998, menang di rumah sendiri, yang kala itu, IHSG berhasil melambung 12,9% dalam 1 bulan euforia Piala Dunia.
Yang menarik tahun ini adalah adanya ajang 3P (Piala Dunia, Puasa dan Pilpres) yang sangat jarang terjadi berbarengan. Di tengah gelaran Piala Dunia kali ini, diselingi oleh 2 faktor utama lainnya, yaitu bulan puasa dan Pilpres.
Kedua faktor tersebut berpengaruh 50% terhadap pergerakan IHSG, seperti halnya faktor fisiologis dan psikologis sebesar 30% dan faktor politik berpengaruh 20% dari 10 faktor kemenangan dalam sepakbola yang diteliti oleh Stephen Hawking.
Sebuah konklusi yang tidak sahih jika gelar kejuaraan sepakbola Piala Dunia secara tradisional berpengaruh terhadap imbal hasil IHSG. Piala Dunia bukan merupakan faktor utama pendorong penurunan volume perdagangan, karena di antara kedua hal tersebut tidak memiliki faktor korelasi negatif yang kuat.
Pada bulan Juni-Juli kenyataannya volume perdagangan memang relatif kecil, namun ada faktor-faktor lainnya yang lebih dominan secara statistik. Adapun penurunan volume perdagangan selama periode bulan Juni-Juli tidak hanya terjadi ketika ada ajang Piala Dunia saja, tetapi juga terjadi di tahun-tahun lainnya. Rendahnya volume juga terjadi di bulan lainnya di tahun genap.
Sejak tahun 1990, ajang Piala Dunia sudah digelar selama 6x, pergerakan rata-rata IHSG positif sebesar 4,2% selama periode Piala Dunia berlangsung selama 1 bulan penuh, dengan kenaikan tertinggi sebesar 12,9% di tahun 1998 dan yang terendah di tahun 2002 dengan hanya minus 3,4%.
Sedangkan pergerakan IHSG di tahun-tahun diselenggarakannya Piala Dunia, dalam 1 tahun agregat, IHSG bergerak positif dengan rerata 15,6%. Yang paling ekstrim, tahun 1994 IHSG bergerak blunder dengan minus 20,2%, sebaliknya di tahun 2006 naik fantastis sebesar 55,3%.
Jadi, volume mengalami penurunan setiap diselenggarakannya Piala Dunia adalah mitos, sedangkan anomali setiap penyelenggaraan Piala Dunia IHSG mengalami penurunan adalah sesat, malahan secara rerata IHSG bergerak positif.
Dengan proyeksi rentang IHSG 4.786—4.862 sebagai level dukungan dan 5.025—5.070 sebagai level tahanan, berikut kesebelasan saham (starting eleven) dengan mayoritas berkarakteristik bertahan.
 
Saham-saham tersebut menjadi tim jagoan investor jelang Piala Dunia 2014, yaitu:
  1. PT Astra Agro Lestari (AALI)
  2. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
  3. PT Bumi Serpong Damai (BSDE)
  4. PT Gudang Garam (GGRM)
  5. PT Vale Indonesia (INCO)
  6. PT Indofood Sukses Makmur (INDF)
  7. PT Jasa Marga (JSMR)
  8. PT Kalbe Farma (KLBF)
  9. PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM)
  10. PT Unilever Indonesia (UNVR)
  11. PT Wijaya Karya (WIKA).
Ingat bola itu bulat, bukan bundar. Ada banyak penjuru yang dapat digunakan untuk mendeduksi garis dari luar ke intinya, dengan 7 jenis racikan gaya (Flip-Flap, Hocus-Pocus, Nutmeg, Pedalada, Rabona, Roulette, Sombrero), sebanyak itu pula strategi yang dapat digunakan investor saham menghadapi faktor-faktor probabilitas dan risiko yang ada di pasar finansial 2 bulan ke depan ini.