Jakarta -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir mendekati level Rp 12.000 per dolar AS. Seperti dikutip dari Reuters, hari ini dolar diperdagangkan di Rp 11.870. Titik terendahnya adalah Rp 11.866.
Menteri Keuangan Chatib Basri masih yakin bahwa pelemahan ini hanya bersifat sementara. Ke depan, dia optimistis rupiah dapat menguat terutama karena perbaikan ekspor.
"Kalau assesment kita, ini temporer karena penyebabnya dari defisit neraca perdagangan April," ungkap Chatib di kantornya, Jakarta pada Rabu (4/6/2014) malam.
Penyebab defisit neraca perdagangan pada April, lanjut Chatib, adalah penurunan ekspor terutama untuk komoditas minyak sawit mentah (CPO). Ini dipengaruhi oleh penurunan harga CPO dunia.
Menurut Chatib, harga CPO pada Mei sudah mulai normal. Oleh karena itu, hasilnya akan bisa dilihat di data ekspor Mei yang dirilis awal bulan depan.
"Mendag Lutfi mengatakan bahwa ekspor akan kembali ke normal (bulan Mei)," ucap Chatib.
Kondisi saat ini, tambah Chatib, sesuai dengan perkiraan pemerintah sejak awal tahun. Ini adalah kondisi musiman yang terjadi setiap tahunnya. "Jadi saya nggak terlalu kaget," ujarnya.
Sementara di sisi politik, Chatib menilai ini merupakan faktor di luar ekonomi yang memang selalu bergerak dinamis. Sentimen yang ditimbulkan hanya menunggu hasil akhir dari pemilihan presiden mendatang.(detik.com)